Mewujudkan Industri Ekonomi Digital Sebagai Penggerak Perekonomian di Surabaya

 

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini bersama para pelaku UKM yang telah berhasil. Ke depan, mereka diharapkan menjadi tulang punggung dalam mengarungi ketatnya persaingan di industri ekonomi digital.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kemajuan teknologi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Tidak hanya merambah pada sektor komunikasi, saat ini teknologi juga telah menjadi bagian penting di setiap bidang kehidupan.

Mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial-budaya, politik dan ekonomi. Salah satu pengaruh nyata kemajuan teknologi komunikasi dapat dirasakan dari pertumbuhan ekonomi.

Dari data yang dikeluarkan Kementerian Komunikasi dan Informatika, teknologi digital memiliki peran vital dalam pertumbuhan industri e-commerce bahkan saat terjadi perlambatan laju ekonomi di tanah air.

Penyebab utamanya banyak pelaku bisnis e-commerce di tanah air merupakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Seperti kita ketahui, bisnis UKM menjadi usaha yang paling tahan banting di saat krisis ekonomi sekalipun.

Kondisi tersebut hampir sama dengan di Surabaya. Sebagai salah satu kota besar di tanah air, jumlah usaha kecil menengah di kota pahlawan cukup banyak. Ada sekitar 450 UKM binaan dibawah naungan Dinas Perdagangan Kota Surabaya.

Melihat banyaknya UKM di Surabaya, peluang industri e-commerce menjadi tulang punggung perekonomian sebenarnya cukup terbuka. Tinggal dibina dengan serius, industri ekonomi digital bisa menjadi lahan bisnis yang menjanjikan di kota pahlawan.

Saat ini, industri e-commerce di kota pahlawan sejatinya sudah mulai berjalan. Meskipun progresnya masih belum se-dasyat yang diharapkan.

Industri ekonomi digital seperti Alibaba dan Lazada masih menguasai pangsa pasar dunia. Namun, Kepala Dinas Perdagangan Kota Surabaya, Arini Pakistyaningsih optimis ke depan industri e-commerce di Surabaya memiliki masa depan yang cukup cerah.

“Saat ini masih belum dasyat. Kita masih kalah dengan Alibaba dan Lazada,” ujar Arini.

Ada banyak alasan kenapa industri e-commerce di Surabaya bakal berkembang pesat. Diantaranya, adanya dukungan nyata dari pemerintah kota kepada para pelaku UKM yang berada di bawah binaan Dinas Perdagangan.

Selain kerap menggelar latihan website kepada para pelaku UKM, Dinas Perdagangan ternyata memiliki rencana yang cukup brilian dalam memajukan industri e-commerce di Surabaya.

Untuk membumikan industri ekonomi digital di Surabaya, Dinas Perdagangan berencana membuat e-commerce sendiri. Atas pertimbangan itu, saat ini di lantai III Gedung Siola dijadikan tempat pelatihan industri kreatif yang salah satunya bergerak di bidang start up.

“Suatu saat Surabaya akan membuat sendiri. Supaya kita tidak kalah dengan Alibaba yang menguasai pangsa pasar dunia,” tegas Arini.

Meski memiliki potensi yang menjanjikan, bukan berarti industri ekonomi digital di Surabaya, tanpa hambatan. Ada beberapa kendala yang bisa menghambat industri e-commerce berkembang. Sebut saja masalah pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen hingga teknik memasarkan produk.

Pemasaran produk misalnya. Pemerintah kota diharuskan terus mendampingi pelaku UKM yang baru merintis usaha. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa memasarkan produk baru di industri e-commerce tidak semudah membalik telapak tangan.

Selain dihadapkan pada persaingan terbuka dengan pelaku industri ekonomi digital yang sudah ada, pelaku UKM juga dituntut kreatif dalam mengemas produk yang akan dijual. Belum lagi soal persaingan harga dengan para kompetitor.

Tidak kalah penting, pemerintah kota juga diminta mampu merubah mindset para pelaku UKM. Pemkot Surabaya diharapkan bisa menumbuhkan jiwa entrepreneurship.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan Arini Pakistyaningsih, kekurangan mendasar pelaku UKM di Surabaya adalah mudah berpuas diri. Mereka kerap merasa sudah nyaman dengan kondisi yang ada.

“Mindset untuk berlari kencang itu yang kurang. Misalnya dapat pesanan yang besar, mereka kerap beralibi bisanya hanya segini. Itu yang harus dirubah,” jelas Arini.

Salah satu produk yang dihasilkan UKM binaan Dinas Perdagangan Kota Surabaya.

Pakar Statistik Universitas Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Kresnayana Yahya menambahkan, seiring berkembangnya teknologi industri ekonomi digital memiliki kekuatan yang luar biasa.

Menurut Kresnayana, berbicara mengenai industri ekonomi digital tidak semata membicarakan jual beli barang dan jasa via internet. Tetapi ada industri lain yang terhubung di dalamnya.

“Intinya, jika kita bersama sama menggerakan daya beli maka barang itu semua laku. Kalau barang itu laku, orang tersebut akan belanja barangnya milik orang lain,” tandasnya.

Kresnayana Yahya mencontohkan kisah penjual nasi goreng kambing yang biasa dia temui. Sebelum memanfaatkan industri ekonomi digital, order yang diterima hanya sekitar 40-50 porsi

Namun, begitu pemilik usaha memanfaatkan e-commerce untuk memasarkan nasi goreng kambing yang dijual, hasilnya sangat luar biasa. Penjualannya langsung melonjak enam kali lipat.

Kresnayana mengingatkan, semua bidang yang digeluti pasti memiliki konsekuensi. Termasuk ketika terjun ke industri ekonomi digital.

“Kapan pun dapat order harus siap. Itu membuat ekonomi ini bergulir jadi lebih cepat dan lebih besar. Dan kekuatan itu menurut saya luar biasa,” ujar Kresnayana.

Manisnya industri ekonomi digital juga turut dinikmati oleh Novita Rahayu Purwaningsih, pemilik usaha fashion label Vira Couple Wear. Novita merupakan pelaku UKM dibawah binaan Dinas Perdagangan Kota Surabaya.

Novita menceritakan, sejak dilatih cara berjualan melalui industri ekonomi digital oleh pemerintah kota dirinya kerap kebanjiran order. Mulai dari baju, dompet hingga tas.

Manfaat lain dari industri e-commerce adalah dirinya kini tidak perlu susah-susah mencari pelanggan. Untuk memasarkan produk yang dihasilkan, cukup meng-upload di media sosial seperti Facebook.

“Memang pelangganku sekarang masih sedikit. Meskipun sedikit, biasanya kalau order langsung banyak,” ujar Novita.

Novita juga mendukung rencana pemerintah kota membuat industri ekonomi digital sendiri. Novita mengaku, jika diizinkan akan ikut bergabung dalam industri e-commerce yang dibuat oleh pemkot.

Melihat fakta di atas, potensi industri e-commerce di Indonesia memang tidak dapat dipandang sebelah mata. Apalagi, dari data analisis Ernst & Young, pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air setiap tahun meningkat 40 persen.

Ada sekitar 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta lebih pengguna perangkat telepon pintar di Indonesia. Tak hanya sekedar untuk mencari informasi dan chatting, masyarakat di kota-kota besar kini menjadikan e-commerce sebagai bagian dari gaya hidup.

Perilaku konsumtif dari masyarakat kelas menengah juga menjadi alasan mengapa industri ekonomi digital di Kota Surabaya akan terus berkembang. Dengan pola pembinaan yang tepat, peluang industri e-commerce menjadi penggerak perekonomian di Surabaya tidak akan sulit terwujud. (bmb/gbi)