Modus Ini Paling Sering Dipakai RS untuk Menolak Pasien BPJS

oleh
Pusat pelayanan pasien pengguna BPJS di rumah sakit.
Pusat pelayanan pasien pengguna BPJS di rumah sakit.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Ombudsman menguak buruknya pelayanan rumah sakit yang kepada pasien pengguna Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) di tengah sorotan beredarnya kabar akan dihapusnya pelayanan jaminan kesehatan masyarakat ini untuk 8 jenis penyakit.  Banyak rumah sakit yang menggunakan beragam alasan untuk menolak pasien pengguna BPJS.

Hasil investigasi Ombudsman menemukan modus yang paling sering dikemukakan pihak rumah sakit untuk menolak pasien BPJS adalah tidak ada kamar kosong.

“Ombudsman sendiri ketika ngecek tidak ada kamar, ternyata ada,” kata Komisioner Ombudsman Dadan S Suharmawijaya di kantornya, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (29/11). Menurut Dadan, modus ini tak hanya terjadi di rumah sakit swasta di Jakarta, tapi hampir di seluruh rumah sakit di Indonesia.

Berdasarkan penyelidikan Ombudsman, pengelola rumah sakit swasta tak menginginkan pasien pengguna BPJS mendapatkan perawatan di rumah sakit mereka. Karena pengelola lebih mementingkan mendapat uang tunai dari setiap transaksi kesehatan.

“Makanya dalam kasus tertentu, dia (rumah sakit) tetap menyisihkan sejumlah kamar untuk pasien umum yang bayar cash. Akhirnya ini jadi kucing-kucingan juga sih rumah sakit,” katanya.

Pengelola rumah sakit swasta terpaksa berbohong kepada pasien BPJS karena selama ini mereka menghadapi kendala dalam proses klaim pencairan dana pasien BPJS. Untuk setiap klaim ke BPJS, dibutuhkan waktu hingga 14 hari.

“Misalnya ketika dilakukan verifikasi antara rumah sakit dan BPJS ada ketidaksepahaman,” katanya.

Untuk itu, kata dia, BPJS harus turut memikirkan likuiditas rumah sakit agar mempunyai dana tunai yang cepat. Begitu juga rumah sakit membantu juga terhadap peserta BPJS.  (vin/mun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *