MUI: Makarel Bercacing Tidak Haram, Tapi Bahaya

oleh
Inilah 27 merk makarel mengandung cacing produk dalam dan luar negeri yang dikategorikan berbahaya oleh BPOM.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin menyatakan makarel bercacing tidak haram, meski belum tersertifikasi halal. MUI baru mengeluarkan sertifikasi halal pada suatu produk makanan dan minuman apabila sudah lolos uji laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan.

“Jadi kalau dari segli halal tidak ada masalah. Tapi tidak aman (bahaya) karena mengandung cacing,” kata Ma’ruf di Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (2/4).

Menurut Ma’ruf, MUI belum mengeluarkan sertifikasi halal. Karena biasanya sertifikasi dikeluarkan setelah produk tersebut lolos penilaian Badan Pengawas Obat dan Makanan dari segala aspek.

“Kita menyebutnya halal dikeluarkan sesudah yang namanya tayib. Tayib itu tidak ada masalah dari segi aspek-aspek, itu dikeluarkan oleh BPOM, baru diproses halalnya,” paparnya.

Sebanyak 27 merek produk ikan makarel positif mengandung parasit cacing. Ke-27 merek itu terdiri atas 138 bets ikan makarel kalengan. Sebanyak 16 merek di antaranya merupakan impor dan 11 lainnya merupakan produk lokal.

Ke-27 merk tersebut antara lain ABC, ABT, Ayam Brand, Botan, CIP, Dongwon, Dr. Fish. Selain itu ada juga mereka Farmerjack, Fiesta Seafood, Gaga, Hoki, Hosen, IO, Jojo, King’s Fisher, LSC, Maya, Nago/Nagos, Naraya, Pesca, Poh Sung, Pronas, Ranesa, S&W, Sempio, TLC, dan TSC.

Dari 27 merek tersebut, tiga diantaranya telah ditarik. Ketiga produk produk itu yakni produk ikan makarel dalam saus tomat kemasan kaleng ukuran 425 gr, merek Farmerjack, nomor izin edar (NIE) BPOM RI ML 543929007175; Merek IO, NIE BPOM RI ML 543929070004; dan ketiga merek HOKI, NIE BPOM RI ML 543909501660.

BPOM juga telah menginstruksikan pemberhentian proses impor sementara terhadap produk-produk makarel bercacing. Pemberhentian impor ini dilakukan hingga ada audit dan pengujian sampel yang lebih besar lagi.

Menurut Ma’ruf, dalam proses pemberian label halal, MUI akan memberikan penilaian dari zat yang terkandung di dalam produk tersebut. Untuk makarel kaleng, dia mengatakan ikan merupakan daging yang halal untuk dimakan.

Ma’ruf mengatakan rekomendasi pencabutan sertifikasi halal kepada BPOM bisa saja dilakukan, jika cacing dalam makarel kaleng itu terbukti berbahaya. Namun, sebelum memutuskan itu, ia berencana meminta pendapat dari sejumlah ahli.

“Kami minta pendapat dulu, bahaya enggak ada cacingnya. Kalau bahaya, ya kita cabut (label halal),” ujarnya. (tpi/mun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *