NasDem Godok Cawapres Jokowi dari Militer

No comment 29 views

Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono menjadi kandidat cawapres pendamping Jokowi paling potensial dari kalangan  militer.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Duet harapan Presiden Joko Widodo dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) atau Jenderal Gatot Nurmantyo nampaknya semain berpeluag terwujud di Pilpres 2019 nanti. Parta NasDem yang baru saja mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi menghendaki cawapres pendamping calon incumbent nanti punya latar belakang militer.

“Kami sedang menggodok wakil presiden, ada sejumlah nama,” kata Taufiqulhadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (5/12).

Taufiq menyatakan sudah ada beberapa nama yang dipertimbangkan untuk calon wakil presiden. Mereka adalah Jusuf Kalla, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan mantan Menteri BUMN Sofyan Jalil.

Taufiqulhadi mengatakan sangat sulit mencari calon yang pas untuk dipasangkan dengan Jokowi. Sebab, pendamping itu menjadi pelengkap sehingga dapat menaikkan elektabilitas Jokowi.

“Jadi semua nama itu mungkin ditambah nama lain sorotan Partai Nasdem, ini bukan hal yang mudah,” ujar dia.

Nasdem sendiri, kata dia, ingin agar Jokowi didampingi kalangan militer.

Hasil survei terbaru yang dirilis Indo Barometer menunjukkan elektabilitas Jokowi diduetkan dengan tokoh siapapun yang ada di bursa cawapres selalu berada di atas 41 persen. Hanya saja, elektabilitas Jokowi melambung dan unggul jauh dari seteru kuatnya Prabowo Subianto atau tokoh lain apabila disandingkan dengan AHY atau Gatot Nurmantyo.

Ha inilah yang membuat Partai Demokrat kian semangat mendorong AHY sebagai cawapres Jokowi di Pilpres 2019 nanti. (Baca juga: Elektabilitas Jokowi-AHY Tertinggi, Demokrat Lamar PDIP).

Adapun untuk capres, Lembaga survei Poltracking Indonesia menemukan kontestasi di Pilpres 2019 tak akan berbeda jauh dari pilpres sebelumnya. Yakni hanya ada dua capres yang bertarung, Jokowi kontra Prabowo Subianto.

Hasil elektablitas menunjukkan, Jokowi mendulang raihan angka 53,2 persen, sementara Prabowo 33,0 persen. “Ini artinya, peluang terjadi head to head besar, karena hanya mereka yang mendapat hasil persentase dua digit,” kata Direktur Eksekuitif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda, di Hotel Saripan Pacific, Jakarta Pusat, Minggu (26/11) lalu.

Hanta menjelaskan, alasan hampir pastinya terjadi head to head karena Jokowi nyaris pasti dicalonkan kembali sebagai presiden. Lalu, Gerindra masih sekuat tenaga mendorong poros Prabowo, lantaran sosoknya yang memberi elektroal tinggi terhadap partai.

Di samping itu, munculnya nama kandidat lain, seperti Agus Harimurthi Yudhono, Gatot Nurmantyo, dan Anies Baswedan, dinilai belum mumpuni.

“Persentase survei mereka memang ditempat ketiga, empat, dan lima. Tapi hanya 3,6 persen untuk Agus, 3,2 persen untuk Gatot, dan 2,8 persen untuk Anies,” dia memaparkan. (lip/bmb)