Nazaruddin Tiba-tiba Amnesia, Setya Novanto Tuding Penuh Kebohongan

oleh
M. Nazaruddin dan Setya Novanto.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Sidang lanjutan kasus korupsi proyek e-KTP menampilkan drama yang menarik. M. Nazaruddin tiba-tiba saja diserang amnesia alias lupa. Dia mengaku lupa pernah menyebut adanya realisasi pembagian uang proyek e-KTP di ruang kerja Setya Novanto di lantai 12 Gedung DPR.

“Realisasi keuntungan terhadap realisasi untuk kepentingan DPR dilakukan di ruang kerja Ketua Fraksi Golkar Setya Novanto di lantai 12, ini bisa ceritakan?” tanya anggota majelis hakim Anwar pada Nazaruddin dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (19/2/2018).

“Lupa, yang mulia,” jawab Nazaruddin.

Hakim langsung menegur Nazaruddin. Menurut hakim, Nazaruddin sebelumnya menyebut tentang pertemuan itu tetapi kini malah mengaku lupa.

(Baca Juga: Ganjar Sebut Yasonna Laoly Lebih Tahu Penganggaran e-KTP)

“Lho jangan lupa dong. Dulu Anda tegas adanya pembagian fee, jalan giliran orangnya (Novanto) di depan Anda, pura-pura lupa,” ucap hakim.

“Kalau berikan keterangan jangan asal sebut. Kalau benar bagus, tapi kalau nggak benar, fitnah. Kasihan kolega Anda ini,” imbuh hakim.

Kemudian, hakim membacakan keterangan Nazaruddin yang isinya tentang penerimaan fee oleh sejumlah anggota DPR saat itu. Namun Nazaruddin tetap mengaku lupa.

“Ini kalau saya sebut keterangan Anda banyak yang menerima seperti Marzuki Ali, Ganjar, Olly, Arif Wibowo dan lainnya. Anda berikan keterangan harus dipikir-pikir dulu. Hakim tetap objektif, benar bilang benar dan salah bilang salah. Lupa atau gimana?” tanya hakim.

“Yang mana Pak?” kata Nazaruddin.

Hakim kembali membacakan keterangan Nazaruddin tentang Melchias Marcus Mekeng (mantan pimpinan Banggar DPR) yang disebut menerima uang USD 1.400 di Lantai 12, Fraksi Golkar di DPR. Keterangan itu pun dikonfirmasi hakim langsung ke Nazaruddin.

“Ini salah contoh keterangan Anda mengarah terdakwa. Pada keterangan waktu Irman dan Andi lancar, giliran ada terdakwa Setya Novanto, Anda lupa. Ini masih satu keterangan belum lain seperti ini, Mekeng menerima 1.400 dolar dilakukan lantai 12, ini Andi yang cerita atau gimana?” tanya hakim.

“Andi yang cerita di lantai 9,” tutur Nazaruddin.

“Apa kalau Anda dikonfrontir dengan Andi mau nggak? tanya hakim kembali.

“Iya, yang mulia,” singkat Nazaruddin.

Dalam perkara ini, Novanto didakwa melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa proyek e-KTP. Novanto juga didakwa menerima aliran uang sebesar USD 7,3 juta melalui keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan orang kepercayaannya, Made Oka Masagung.

Sedangkan, Andi Narorong yang disebut Nazaruddin telah divonis dalam perkara yang sama. Andi dihukum 8 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Selain itu, hakim juga membebani Andi membayar uang pengganti USD 2,5 juta dan Rp 1,186 miliar.

Sementara itu, Setya Novanto menyebut M. Nazaruddin tidak bisa begitu saja dipercaya. Menurutnya, keterangan Nazaruddin banyak yang bohong.

“Kan kita tahu Nazaruddin itu biasa. Kita tahu Nazaruddin gimana kan, banyak bohongnya,” kata Setya Novanto.

Nazaruddin dihadirkan jaksa KPK sebagai saksi untuk sidang Setya Novanto. Selain Nazaruddin, ada Melchias Marcus Mekeng yang mengaku akan menjelaskan tentang jabatannya sebagai mantan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR.

“Ada orang Banggar juga, penting itu. Nanti dilihat ada Banggar, nanti ya,” ujar Novanto.

Selain itu, jaksa KPK menghadirkan sejumlah saksi, di antaranya anggota DPR Arief Wibowo; pegawai PT Murakabi Sejahtera, Tri Anugerah Ipung; mantan Direktur Utama Sucofindo Arief Safari; Kepala Divisi Keuangan dan Akuntansi PT LEN Industri, Yani Kurniati; Kepala Keuangan PNRI Indri Mardiani; Komisaris PT Softorb Technology Indonesia, Mudji Rachmat Kurniawan; serta mantan Ketua Manajemen Bersama Perum PNRI Andreas Ginting.

Dalam perkara ini, Setya Novanto didakwa melakukan intervensi dalam proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa proyek e-KTP. Novanto juga didakwa menerima aliran uang sebesar USD 7,3 juta melalui keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan orang kepercayaannya, Made Oka Masagung.(dtc/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *