NU dan Muhammadiyah Kecam Serangan Teroris di Surabaya

oleh
Ketua PBNU Robikin Emhas.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mengutuk keras peledakan bom di tiga gereja di Surabaya. Ketua PBNU Robikin Emhas menyatakan, NU turut belasungkawa kepada para korban dan keluarganya.

“NU mengutuk keras tindakan itu. Penggunaan kekerasaan dalam kawasan damai, bukan perang, adalah kejahatan, dan apa pun alasannya tidak dapat dibenarkan,” kata Ketua PBNU Robikin Emhas di Jakarta, Minggu.

Robikin menyatakan segala bentuk teror dimaksudkan menebar rasa takut di masyarakat yang selanjutnya dikelola untuk kepentingan sepihak pembuat teror.

Namun, ia yakin aksi terorisme tidak akan membuat gentar rakyat Indonesia yang memiliki sejarah perjuangan yang panjang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

“Saya percaya jiwa patriotik bangsa Indonesia tidak permah padam. Perlawanan terhadap kolonialisme dengan bambu runcing di era prakemerdekaan adalah bukti tak terbantahkan. Apalagi sekadar teror bom oleh mereka yang berjiwa hipokrit,” katanya.

Ia mengajak segenap pihak untuk memberi dukungan kepada Polri untuk secara profesioanal dan berintegritas mengungkap tuntas pelaku dan motif peledakan bom tersebut.

Senada dengan PBNU, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur DR M. Saad Ibrahim mengecam tindakan bom bunuh diri yang merenggut nyawa orang. Apalagi jika tindakan itu ditujukan kepada simbol-simbol agama.

“Visi Muhammadiyah yang dengan teguh memperjuangkan puncak kebaikan bagi umat, bangsa, dan kemanusian sangat menentang peristiwa peledakan bom bunuh diri yang terjadi pagi ini di gereja di Surabaya,” tegas Saad.

Terlebih, jelas Saad, jika bom bunuh diri ini ternyata ditujukan pada simbol-simbol agama. “Apapun itu, kita sangat tidak setuju dengan bom bunuh diri itu. Apalagi ditujukan pada simbol-simbol agama,” tegas Saad.

Menurut dia, siapapun yang melakukannyatindakan bom bunuh diri secara nyata telah merusak tatanan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Perbuatan mereka, siapapun yang melakukannya, berhadap-hadapan dengan perjuangan Muhammadiyah,” jelas dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu. (ant/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *