Palsukan Dokumen, Steven dan Nopember Evak Terancam Hukuman 8 Bulan Penjara

oleh
Salah satu terdakwa pemalsuan dokumen saat menjalani persidangan.

GLOBALINDO.COSURABAYA – General Manager PT. Bahari Cahaya Raya (BCR) Stevan Kurniawan Tjahyo dan Nop Evak Soedartono (berkas terpisah) kini duduk dikursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Keduanya menjadi terdakwa atas pemalsuan dokument.

Akibat ulah keduanya, PT. Indra Jaya Swastika (IJS) mengalami kerugian hingga mencapai USD 7958,78 di bidang maintenance container. Sesuai pasal 263 Ayat 1 Jo Pasal 55 Ke-1 KUHP dengan hukuman 8 bulan penjara.

Pada persidangan dengan agenda pembacaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rachmad Hari Basuki SH M Hum, kedua terdakwa yakni Stevan Kurniawan Tjahyo dan Nop Evak Soedartono terbukti telah melakukan pemalsuan dokumen dan turut serta melakukan pemalsuan dokumen seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsukan.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam pasal 263 Ayat 1 Jo Pasal 55 Ke-1 KUHP dengan hukuman 8 bulan penjara dikurangi masa tahanan rumah” ujar JPU saat membacakan tuntutan di ruang Garuda I PN Surabaya.

Menanggapi tuntutan JPU, kedua terdakwa melalui tim kuasa hukumnya akan mengajukan pembelaan pada persidangan mendatang.

Pada dakwaan milik JPU, perkara tersebut bermula pada tahun 2015 bertempat di PT. BCR yang beralamat di Jln. Mayjend Sungkono 204 Surabaya. Keduanya sepakat untuk melakukan pemalsuan dokumen terkait biaya perawatan dan perbaikan container.

Awalnya PT. Indra Jaya Swastika beralamat di Jl. Kalianak Barat No. 57 A Surabaya dan PT. Bahari Cahaya Raya alamat Jl. Mayjen Sungkono 204 Surabaya melakukan kerja sama dalam bidang perawatan container dan perbaikan container.

Selanjutnya pada bulan April 2015 PT. IJS menerima email dari PT. BCR yang diterima oleh terdakwa yang isinya menyampaikan akan ada 50 container 20 feet membawa cargo ex PT. Jindal masuk ke depo PT. IJS namun ada 24 container yang bermasalah.

Kemudian terdakwa Stefan Kurniawan Tjahjo selaku General Manager (GM) PT. BCR, meminta pihak PT. IJS untuk menaikkan biaya repair dalam Estimasi of Repair (EOR) namun pihak PT IJS menolak permintaan tersebut sehingga terdakwa meminta agar softcopy Estimasi of Repair dalam bentuk Excel.

Setelah terdakwa Stefan Kurniawan Tjahyo menaikkan nilai cost pada EOR yang dibuat pihak PT IJS, terdakwa melaporkan hasil Estimasi of Repair (EOR) yang telah dirubahnya dengan mengirimkan hasil estimasi teraebut kepada pihak Maxicon Container Line untuk dilakukan klaim asuransi.

Kemudian atas klaim tersebut, pihak asuransi menunjuk surveyor independent yaitu PT. SINSPEC untuk melakukan survey terhadap kerusakan container berdasarkan klaim asuransi dari pihak Maxicon Container Line.

Setelah ditunjuk sebagai surveyor, pihak PT. SINSPEC melakukan survey dilapangan dan menemukan perbedaan data pada Estimasi of Repair (EOR) yang diterima dari pihak asuransi.

Data yang diterima dari pihak PT. IJS yaitu perbedaan nilai cost selanjutnya. Selain perbedaan nilai cost, ditemukan juga perbedaan nomor telepon dan nama surveyornya.

Perbedaan nilai cost yakni pada Estimasi of Repair (EOR) dari pihak pihak PT. IJS tertulis No. 7490181 dengan nama surveyor Arief Setiawan. Sedangkan pada Estimasi of Repair (EOR) yang diterima dari pihak asuransi yang berasal dari PT BCR tertulis No. 7490150 dengan nama surveyor Aries Setiawan.

Setelah menemukan perbedaan tersebut, pihak PT. SINSPEC melaporkan temuannya kepada pihak asuransi.

Atas kejadian tersebut PT. IJS keberatan adanya perubahan pada Estimasi of Repair (EOR) karena nama baik PT. IJS menjadi jelek dimata customer dan beranggapan maintenance dan repair di PT. IJS mahal serta PT IJS tidak dipercaya lagi oleh costumer dengan tingginya biaya handling.

Dari hasil proses survey yang dilakukan oleh PT. IJS, PT. IJS mengalami kerugian sebesar USD.7.958,78. Seharusnya nominal tersebut diterima sebagai pemasukkan perusahaan. (Ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *