Panggil Disbudpar, Komisi D Cari Solusi Pelestarian Bangunan Cagar Budaya di Surabaya

Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Agustin Poliana

Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Agustin Poliana

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Komisi D Bidang Kesra DPRD Surabaya berencana mengundang Dinas kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Tim Cagar Budaya, Pemerhati dan pihak terkait lainnya, guna membahas pemeliharaan bangunan Cagar Budaya di kota Surabaya.

Ketua Komisi D, Agustin Poliana, Jumat (13/4) khawatir, jika tak ada perhatian lebih, akan banyak bangunan cagar budaya yang punah, seperti robohnya bangunan radio Perjuangan Bung Tomo di Jalan Mawar.

“Karena selama ini, gak bisa intervensi dan kewenangan, maka banyak yang hilang,” ujarnya

Agustin mengakui, dari sejumlah bangunan cagar budaya yang ada di Kota Pahlawan ini, sebagian konstruksinya sudah berubah bentuk dan fungsi.

“Hanya depannya saja yang masih tetap, tapi belakang sudah berubah, seperti di Selatan Tunjungan Center,” ungkapnya.

Menurut Agustin, perhatian terhadap bangunan cagar budaya, bukan hanya dengan menetapkan statusnya, kemudian membenahinya dalam momen-momen tertentu, seperti saat akan menjadi tuan rumah dalam acara Prepatory Comnitte (PrepCom) 3 for UN Habitat III, Juli mendatang.

“Jadi, waktu ramai UN Habitat, baru ditata dan dibenahi,” papar Politisi PDIP

Agustin juga menyarankan agar pemerintah kota bersedia menggandeng pihak swasta dalam melestarikan bangunan bersejarah. Dengan demikian, jika ada keterbatasan dana APBD untuk merawat bangunan cagar budaya, ada pendapatan lain yang dapat digunakan.

“Pemkot bisa melibatkan swasta sebagai orang tua asuh (Bangunan Cagar Budaya) melalui CSR,” katanya

Politisi dari PDIP ini mengakui, dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk memelihara bagnunan cagar yanga da di Surabaya. Selain Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang mahal, biaya operasional juga tinggi. Akibatnya, apabila pemilik yang tak mampu mengelola bangunan itu mengalihkan kepemilikan ke pihak lain.

“Kecenderungan bangunan yang sudah pindah tangan tersebut dipergunakan untuk kepentingan bisnis,” katanya.

Menurutnya, Kota Surabaya memiliki banyak bangunan cagar budaya. Sebagian Bangunan bersejarah itu diantaranaya berdiri di sebelah utara Tunjungan.

“Di jembatan Merah, Kembang Jepun, dan sekitarnya kan banyak banguna Cagar budaya,” terangnya.

Agustin mengungkapkan, dalam pembahasan bangunan cagar budaya nantinya, pihaknya akan mendata kembali jumlahnya, sekaligus mencari cara memberikan pemahaman kepada masyarakat pemilik agar bangunan tersebut tetap lestari.

“Harapan kita pemilik tak hanya bicara masalah keekonomian, tapi peninggalan sejarah,” harap politisi senior ini.(adv)