Panglima TNI dan Kapolri Masuk Bursa Cawapres Pendamping Jokowi

Berebut Posisi: Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kiri) dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo (kanan) boleh jadi sedang berebut  posisi cawapres yang akan digandeng Presiden Joko Widodo (tengah) di Pilpres 2019 nanti.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Seperti sudah diprediksi banyak pihak, manuver Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam beberapa momentum politik membawa mereka masuk bursa calon wakil presiden pendamping Joko Widodo di Pilpres 2019. Gatot bahkan dipandang sebagai figur calon alternatif paling potensial menjadi cawapres.

Gatot yang meraih 13 persen hanya kalah tipis dari Wapres Jusuf Kalla (15,1 persen) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (13,4 persen). Adapun Tito masih tertinggal jauh di angka 6 persen.

Ada pula nama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (10,1 persen), putra SBY Agus Harimurti Yudhoyono (7,5 persen), Menteri Keuangan Sri Mulyani (4,8 persen), dan Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan (0,8 persen).

Dukungan kepada para tokoh ini terekam dari hasil survei Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) yang dilakukan pada September lalu. Sebelumnya, pada survei yang dilakukan Saiful Mudjani Research Center (SMRC), pada September, nama Gatot dan Tito sendiri masuk bursa Capres dengan angka yang tidak signifikan (1,3 persen dan 0,3 persen).

Direktur Eksekutif, KedaiKOPI, Sri Aryani mengatakan, pertanyaan tentang Cawapres bagi Jokowi itu terkait dengan pentingnya posisi tersebut dalam menentukan pilihan warga terhadap capres pilihannya.

Selanjutnya, KedaiKOPI juga menanyakan tentang pilihan Presiden bila pemilu dilakukan di hari saat pertanyaan diajukan. Responden yang memilih Jokowi adalah sebanyak 44,9 persen. Sementara, yang memilih opsi jawaban selain Jokowi ada 48,9 persen, sementara sisanya tidak menjawab. (Baca: Meski Elektabilitas Tinggi, 50 Persen Responden Tak Dukung Jokowi).

“Pada opsi jawaban selain Jokowi, responden menyebut nama Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, Tri Rismaharini, Agus Harimurti Yudhoyono dan beberapa nama lainnya,” ucapnya tanpa merinci angka-angkanya.

Hal ini juga berpengaruh terhadap pilihan partai politik di 2019. Hanya 41,3 persen responden yang mengaku akan memilih partai politik pengusung Jokowi pada 2019 nanti. Sebanyak 53,5 persen responden menjawab tidak akan memilih, sementara sisanya memilih untuk tidak menjawab atau tidak memilih.

Survei nasional itu sendiri digelar di delapan kota, yakni Medan, Padang, Palembang, Jakarta (kecuali Kep. Seribu), Bandung, Semarang, Surabaya dan Makassar. Pengambilan data dilakukan wawancara tatap muka dan melibatkan 800 responden, sejak 8 hingga 27 September 2017. Margin of error (MoE)-nya mencapai /-3,5%.

Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio menambahkan, survei tersebut juga mendata bahwa responden masih mengeluhkan tentang masalah ekonomi saat ditanya tentang masalah utama yang dihadapi masyarakat saat ini. Masalah ekonomi yang paling banyak dikeluhkan adalah kebutuhan pokok, BBM, dan listrik mahal (55,4 persen), masalah kebutuhan lapangan pekerjaan (14,1 persen).

Selain itu, warga mengeluhkan soal korupsi (3,9 persen), narkoba (3,3 persen), berita hoax tentang SARA (2,5 persen). Responden yang menjawab tidak tahu ada 7,6%, sisa responden lainnya menyebutkan hal lain selain yang disebutkan di atas. Saat ditanya tentang kondisi Indonesia saat ini, lanjutnya, responden menjawab perekonomian yang sulit (24 persen), demokrasi yang sedang diuji (21 persen). (Baca: Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi Belum Dongkrak Ekonomi Rakyat). (bs/bmb)