Panik Kondisi Suami, Jennie Umpat Dokter RS Siloam

Jennie Jesslyn (kanan) dan kuasa hukumnya Pieter Hadjon (paling kiri) saat diperiksa sebagai terdakwa yang digelar di PN Surabaya, Rabu (22/11/2017).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA  – Terdakwa Jennie Jesslyn mengaku umpatannya kepada Ami Ashariati, dokter Rumah Sakit Siloam Surabaya terjadi secara spontan. Hal tersebut diterangkan Jennie saat dirinya diperiksa sebagai terdakwa pada persidangan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (22/11/2017).

Dihadapan majelis hakim yang diketuai M Tahsin, Jennie menceritakan kronologis peristiwa yang membuat dirinya terpaksa melontarkan umpatan kepada Ami. “Saat itu saya ingin tanya ke suster soal kondisi suami saya, namun tiba-tiba suster dilarang pergi oleh dokter Ami,” tuturnya.

Atas sikap dokter Ami itulah, Jennie mengaku kesal. Pasalnya saat itu Jennie ingin mengetahui  kondisi suaminya yang tiba-tiba mengalami kondisi yang mencemaskan. “Suami saya di rawat di RS Siloam, saya melihat panas tubuh suami saya meningkat tinggi, hingga 40 derajat, bahkan tak berhenti BAB dan omongannya sudah ngelantur. Tentu saja saya cemas. Saat saya tanya ke suster jaga soal keberadaan dokter yang menangani suami saya. Namun saya malah mendapat perlakuan tak sopan yang ditunjukan oleh pelapor (dokter Ami), saya merasa disepelekan,” terang Jennie.

Ia menjelaskan, suaminya saat itu menahan sakit tanpa ada keberadaan dokter yang menangani. Dari situlah, Jennie merasa kesal dan secara spontan akhirnya melontarkan umpatan kepada dokter Ami. “Saya bilang kurang ajar, gila, anjing,” terang Jennie sembari meneteskan air matanya saat duduk di kursi terdakwa.

Sementara itu, Pieter Hadjon, kuasa hukum Jennie menjelaskan bahwa kliennya memang sudah mengakui bahwa telah mengeluarkan kalimat yang tidak sopan kepada dokter Ami. Namun hal itu terjadi lantaran Jennie tengah panik karena melihat sang suami yang dirawat di RS Siloam mengalami muntah-muntah. “Sebagai istri hal itu wajar, karena itu spontan dan tidak disengaja,” katanya usai sidang.

Menurut Pieter, Jennie sendiri telah dua kali berupaya untuk meminta maaf kepada dokter Ami. Namun dua kali pula, dokter Ami menolak permintaan maaf Jennie dan tetap ngotot memperkarakan hal ini. “Sudah dua kali Jennie secara tulus meminta maaf ke dokter Ami tapi selalu ditolaknya, entah kenapa,” beber Pieter.

Selain itu, Pieter juga mempertanyakan dakwaan jaksa penuntut umum Ludjeng Andayani atas kasus yang menjerat Jennie. Dakwaan jaksa pasal 310 tentang pencemaran nama baik itu, unsurnya menuduh seseorang. Namun, apa yang dilakukan terdakwa ini bukan tuduhan, hanya sekedar mengumpat. Terlebih lagi, pada pasal 335 yang dijeratkan jaksa pada pasal subsider dalam dakwaan, Pieter berpendapat harus ada unsur kekerasan dalam pencemaran nama baik.

 

Sedangkan, hal itu tidak dilakukan sama sekali oleh Jennie. “Saya yakin unsur pasal dalam dakwaan jaksa tidak terbukti. Seharusnya yang dijeratkan adalah pasal 315 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama empat bulan penjara, namun hal itu tidak dilakukan jaksa,” tegas Pieter.

Dalam dakwaan jaksa penuntut umum Ludjeng Adayani dijelaskan, Jennie diadili sebagai terdakwa setelah mengumpat dokter Ami. Peristiwa itu bermula saat Jennie tengah menunggu suaminya yang sedang dirawat di RS Siloam.

Saat itu, suaminya tengah membutuhkan bantuan atas sakitnya. Kemudian terdakwa menuju ke nurse station menemui suster bernama Dhita Dwi Sartika yang saat itu sedang membantu dokter Ami yang sedang melakukan pengechekan pasien.

Pada saat itu Jennie minta nomer dokter yang menangani suaminya, namun tidak diberi oleh suster Dhita. Tak hanya itu, Suster Dhita yang saat itu sudah mau diajak pergi beranjak dari nurse station tersebut justru dilarang meninggal tempat oleh dokter Ami.

Seketika itu Jennnie langsung emosi dan melayangkan umpatan-umpatan kepada dokter Ami. Atas kejadian tersebut, dokter Ami kemudian melaporkan Jennie ke Polda Jatim atas tuduhan pencemaran nama baik. (NH)