Pelapor Ujaran Kebencian Ternyata Tak Ingin Meja Hijaukan Alfian Tanjung

Sujatmiko, pelapor kasus ujaran kebencian di sidang terdakwa Alfian Tanjung di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (18/10).

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA Sujatmiko, pelapor kasus ujaran kebencian yang dilakukan Ustadz Alfian Tanjung ternyata tak ingin menyeret pelaku ke meja hijau. Tujuannya melaporkan Alfian Tanjung ke polisi agar ujaran kebencian yang disampaikan sang ustadz di depan jamaah Masjid Mujahidin, Tanjung Perak tidak menimbulkan keresahan dan memprovokasi warga Surabaya.

Sujatmiko menjadi saksi dalam persidangan terdakwa kasus ujaran kebencian, Alfian Tanjung di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (18/10).

“Saya tak menyangka jika laporan saya berujung dipersidangan, tujuan saya melaporkan video ini supaya semua warga Surabaya yang melihat video ini tidak menimbulkan permasalah dikedepanya,” ujar Sudjatmiko menanggapi pertanyaan pengacara Alfian, Abdulloh Alkatiri.

Pengacara Alfian mengatakan bahwa ceramah yang disampaikan kliennya hanya menjabarkan isi dan makna yang terkandung dalam Al Quran. Menurutnya, menjalankan perintah Al Quran seperti diperbolehkan membunuh penghina Al Quran atau memotong tangan pencuri.

Namun Sujatmiko tetap berpendapat bahwa ceramah Alfian berjudul ‘Subuh Berjamaah, menghadapi invasi PKI dan PKC’ yang tersebar di youtube merupakan sebuah tontotan ekstrim yang bisa memprovokasi publik untuk ikut membenci bahkan menghakimi orang yang dimaksud dalam ceramah itu.

“Setelah saya lihat, isi ceramahya ekstrim. Ada kalimat penggal kepala Ahok,” kata Sujatmiko menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum, Rahmat Supriyadi.

Karena unsure provokasi itulah, Sujatmiko melaporkan ceramah Alfian Tanjung ke polisi dengan barnag bukti rekaman video ceramah.  “Sebelum melapor, saya ngecek ke Masjid Mujahidin untuk memastikan kebenaran ceramah itu,” tuturnya. (adi/gbi)