Pembunuh Brutal 2 WNI di Hongkong Merekam Kekejamannya

Rurik George Caton Jutting (29 tahun) yang berkewarganegaaran Inggris, dikawal dalam mobil polisi sebelum menghadiri pengadilan di Hong Kong, 3 November 2014. Polisi menemukan mayat korban yang diduga WNI dalam sebuah koper di balkon apartemennya.

Rurik George Caton Jutting (29 tahun)

GLOBALINDO.CO, HONG KONG  – Bankir Inggris Rurik Jutting merincikan secara tenang pengaruh kokainnya penyebab dia melakukan penyiksaan dan pembunuhan yang berakhir kematian dua perempuan Indonesia di apartemen mewahnya di Hong Kong.

Sidang ke tiga kasus pembunuhan terhadap dua wanita Indonesia (WNI) di Hong Kong digelar kemarin. Terdakwa adalah Rurik Jutting yang melakukan pembunuhan seorang ibu tunggal, Sumarti Ningsih (23) dan Seneng Mujiasih (26) pada November 2014 lalu.

Jaksa menuduh Jutting melakukan pembunuhan terhadap dua wanita secara brutal dan mengerikan. Setelah  Jutting mengkonsumsi 10 gram kokain murni 30 persen sehari yang merupakan dosis terlampau tinggi. Seorang ahli toksikologi mengatakan dalam ruang sidang sekitar tiga gram saja dikonsumsi bisa berakibat fatal.

Setelah menyiksa korban selama tiga hari, memperkosanya, dan membunuhnya. ” kemudian mengabadikan kekejamannya itu menggunaan video,” kata jaksa John Reading saat membacakan dakwaannya seperti dilansir Standard Hong Kong pada 25 Oktober 2016.

Menurut Reading, tidak ada alasan untuk menerima alasan Jutting untuk tidak diputus bersalah dalam perkara penganiayaan dan pembunuhan brutal ini.

Hakim Micheal Stuart-Moore berpendapat dalam kasus ini terdapat aspek kekerasan dan penyiksaan yang kejam. “Kasus ini sangat mengerikan, salah satu korban mengalami kekerasaan seksual dan penyiksaan yang kejam sebelum dibunuh” katanya.

Moore menambahkan pengadilan akan berjalan secara adil. “Juri akan menilai kasus ini dari apa yang dilihat dan didengar berdasarkan bukti yang tersedia. Tetapi, Jutting berhak atas pengadilan yang adil,”  tambahnya.

Sidang terhadap kasus pembunuhan oleh Jutting berlangsung di pengadilan Hong Kong dan diperkirakan akan berlangsung selama dua sampai tiga pekan.

Moore juga  telah menyarankan pada para juri di hari pertama persidangan dengan mengatakan putusan bisa disandarkan pada kesaksian psikiatri dan psikologis.

Pembunuhan di Hongkong akan dijatuhi hukuman seumur hidup, sementara pembunuhan tanpa disengaja memiliki sanksi maksimal seumur hidup.

Sementara persidangan berlangsung, anggota dari Asian Migrants Coordinating Body (AMCB) melakukan protes di luar pengadilan. Mereka menuntut pengadilan yang cepat dan adil dan meminta pemerintah Indonesia memberikan kompensansi bagi keluarga korban.

Jutting bekerja di Bank of America Merril Lynch di Hong Kong. Dia alumni Universitas Cambridge. (nh/bbc)