Pemerintah-DPR Sepakat Bayar Bunga Utang Luar Negeri Rp 221,19 Triliun

utang-luar-negeri

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Pemerintah dan Dewan perwakilan Rakyat sepakat membayar bunga utang luar negeri Indonesia sebesar Rp 221,19 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017. Pagu untuk mencicil utang itu naik 15,67 persen dibandingkan dengan alokasi tahun 2016 yang sebesar Rp 191,22 triliun.

“Anggaran program pengelolaan utang negara ini buat bayar bunga utang,” ujar Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani, dalam rapat panitia kerja RAPBN 2017 dengan Banggar DPR di Gedung DPR, Senin (17/10).

Sebelumnya, Kementerian Keuangan mengusulkan pembayaran utang Rp 221,41 triliun. Namun Badan Anggaran DPR hanya menyetujui Rp 221,19 triliun.

Apabila dirinci, pagu untuk pembayaran bunga utang dalam negeri disepakati sebesar Rp 205,47 triliun, dan pengelolaan utang luar negeri sebesar Rp 15,71 triliun.

Askolani mengungkapkan, besaran anggaran tersebut telah mempertimbangkan risiko pembiayaan tahun depan, dalam hal ini besaran bunga utang dari akumulasi pinjaman pemerintah di tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, anggaran ini juga untuk memenuhi kewajiban pemerintah demi menjaga akuntabilitas pengelolaan utang pemerintah.

Sebagai informasi, utang pemerintah setiap tahun terus mengalami kenaikan. Per akhir Agustus 2016, utang pemerintah mencapai Rp 3.438,29 triliun. Padahal, lima tahun lalu atau akhir 2011, jumlah utang pemerintah hanya Rp 1.808 triliun.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat pada Agustus 2016 Utang Luar Negeri (ULN) sektor swasta Indonesia menurun 3,9 persen secara year on year (yoy) menjadi sebesar USD 163,3 miliar. ULN sektor swasta tersebut masih mendominasi total ULN Agustus, yaitu sebesar 50,6 persen.

Menurut, utang RI di sektor publik pada Agustus 2016 tercatat mengalami peningkatan dari bulan sebelumnya yaitu sebesar 18,7 persen (yoy) menjadi sebesar USD 159,7 miliar. Utang sektor publik tersebut berkontribusi sebanyak 49,4 persen dari total ULN Agustus 2016.

Dengan demikian, utang luar negeri RI hingga Agustus 2016 tercatat mencapai USD 323 miliar. Angka tersebut menggambarkan bahwa pada periode tersebut ULN tumbuh sebesar 6,3 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan utang luar negeri pada Juli 2016 lalu yang sebesar 6,6 persen secara yoy.

Sementara itu, berdasarkan jangka waktu asal, posisi utang RI didominasi utang jangka panjang yang mencapai USD 282,6 miliar atau 87,5 persen. Angka tersebut tumbuh 8,1 persen atau lebih rendah dari capaian Juli 2016 lalu yang sebesar 8,3 persen secara yoy.

Sedangkan, posisi utang jangka pendek pada akhir Agustus 2016 tercatat sebesar USD 40,5 miliar atau 12,5 persen. Angka tersebut tercatat turun sebesar 4,8 persen atau lebih rendah dibandingkan periode Juli 2016 yang sebesar 3,7 persen secara yoy.

Adapun ULN pada Agustus berdasarkan sektor ekonomi, tercatat sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih masih mendominasi yaitu mencapai 75,5 persen dari total utang pihak swasta. (bs/gbi)