Pemerintah Siap-siap Naikkan Tarif Listrik

oleh
Ilustrasi petugas PLN mencatat meteran listrik.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah bersiap untuk menaikkan tarif listrik. Tarif listrik nonsubsidi dipastikan naik sesuai dengan formulasi penyesuaian yang sedang dirancang.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Andy Noorsaman Someng di Jakarta, Senin (29/1/2018), menjelaskan, formulasi baru akan disusun lagi jika memang ada faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual listrik.

Sebelumnya, Menteri ESDM, Ignasius Jonan telah merancang skema baru untuk memasukkan harga batubara acuan dalam penetapan tarif dasar listrik. Pertimbangan ini didasari oleh porsi penggunaan batubara untuk pembangkit listrik masih menjadi tumpuan hingga tahun 2026.

(Baca Juga: Tarif Listrik akan Berubah Setiap Tiga Bulan)

“Ini akan dicoba untuk reformulasi lagi formula penetapan tarif listrik, bagaimana kalau dengan masuknya harga batubara. Karena pembangkit kita itu 60 persen energi primernya batubara. Jadi hingga 2026 masih dominan pakai batubara, karena harganya lebih kompetitif, namun pembangkitnya juga harus yang teknologinya lebih environment friendly ,” ujar Jonan.

Selama ini, harga minyak Indonesia masih jadi faktor utama pengambilan keputusan Tarif Tenaga Listrik.

Sementara saat ini porsi penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar diesel semakin kecil. “Sekarang paling 4 persen . Nah targetnya kan kalau sampai 2026 tinggal 0,05 persen . Masak pakai ICP, kalau mau pake HBA, Harga Batubara Acuan,” jelas Jonan.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional dari batubara hingga 2016 sebesar 29.880,23 MW dari total 59.656,30 MW. Sedangkan, pembangkit listrik diesel hanya sebesar 6.274,79 MW secara nasional.

Terkait kepastian skema baru tersebut, Jonan belum memutuskan dan masih mencoba bersikap realistis seiring dengan perkembangan pembangkit listrik. “Belum, ini mau dibahas. Kami berusaha coba realistis,” tutup Jonan.

Sebagai informasi, perhitungan Tarif Tenaga Listrik masih menggunakan tiga komponen, terdiri dari harga minyak mentah Indonesia atau ICP, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan laju inflasi.(ara/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *