Pemkot-Ditjen KAI Sepakat Pangkas Jalur Trem 17 Km Jadi 9 Km

Angkutan massal cepat, Trem.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Direktorat Jenderal PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pemerintah Kota Surabaya sepakat memangkas panjang jalur trem di Kota Pahlawan, Jawa Timur dari 17 kilometer menjadi 9 kilometer. Pemangkasan panjang jalur trem itu boleh jadi untuk menghemat anggaran.

Semula, jalur angkutan massa cepat itu rencananya dibangun dari Stasiun Wonokromo hingga Jalan Indrapura sejauh 17 kilometer. Kini setelah dipangkas, jalur trem sepanjang 9 kilometer dari Wonokromo ke Jalan Praban lalu kembali ke Jalan Tunjungan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji akan menggelar rapat lanjutan dengan Direktorat Jenderal PT Kereta Api Indonesia di Jakarta untuk mematangkan rencana dan kebutuhan dana proyek. Rapat ini juga menindaklanjuti pertemuan antara Wali Kota SurabayaTri Rismaharini dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada 30 Desember lalu.

Agus memperkirakan, pengerjaan proyek transportasi trem sebagai bagian dari proyek angkutan massal cepat di Surabaya itu berlangsung paling lama dua tahun. Ketika panjang jalur direncanakan 17 kilometer, biaya yang dibutuhkan Rp 2,4 triliun hingga Rp 3 triliun. Ketika panjang jalur menjadi 9 kilometer, anggaran proyek diperkirakan sekitar Rp 1,2 triliun.

Menurut Risma, proyek trem sangat dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di kota dengan penduduk 3 juta jiwa ini. Trem akan melintas di samping jalur pedestrian sehingga jika trem berhenti, penumpang dengan mudah naik dan turun trem.

Moda transportasi ini juga sangat ramah lingkungan karena menggunakan energi listrik. Pemkot Surabaya juga akan mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dengan membangun moda angkutan massal cepat monorel yang menghubungkan sisi timur dan barat Surabaya menuju tengah kota. Sebagai pengumpan semua moda transportasi massal ini, Pemkot akan mengaktifkan bus dan angkutan kota sehingga mempermudah pengguna.

Pakar ekonomi dan statistik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Kresnayana Yahya menuturkan, kehadiran trem di Surabaya menjadi ajang pembelajaran sekaligus dapat mengubah perilaku masyarakat yang masih banyak menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum.

Hadirnya moda transportasi yang nyaman dan jenisnya diperkirakan bisa mengurangi kemacetan di Surabaya.

“Pegawai yang pekerjaannya tidak tahan stres akan memilih trem karena menjadi moda yang nyaman dan tidak perlu bertempur melawan kemacetan di jalan,” katanya.

Jalur lintasan trem merupakan kawasan tengah kota yang padat. Saat jam berangkat dan pulang kerja, kemacetan kerap terjadi di kawasan tersebut. Jika tahap pertama berhasil, Kresnayana berharap moda transportasi itu bisa dikembangkan hingga ke Waru, Sidoarjo, agar dampaknya lebih terasa.

Setiap hari paling tidak ada 500.000 orang dari Sidoarjo yang bekerja di Surabaya dan 200.000 orang Surabaya yang bekerja di Sidoarjo. Dengan demikian, orang Sidoarjo tidak perlu melakukan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi hingga Surabaya sehingga kota lebih lengang. (kc/gbi)