Penerima Nobel Perdamaian 2016 Sumbangkan Hadiah Rp 12 M ke Korban Konflik

 

manuel-santos-premio-nobelGLOBALINDO.CO, BOGOTA – Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos berhasil meraih hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Uang hadiah sebesar hampir Rp 12 miliar itu akan disumbangkan untuk membantu korban konflik di negaranya.

Presiden Kolombia dianugerahi Nobel Perdamaian atas keteguhannya dalam mengupayakan perdamaian dengan kelompok pemberontak komunis FARC. Kesepakatan damai dengan FARC ini kemudian ditolak mayoritas warga Kolombia berdasarkan hasil referendum, awal Oktober lalu.

Dalam konflik selama 52 tahun, 260.000 orang telah tewas dan lebih dari enam juta orang harus mengungsi dari rumahnya.

“Tadi malam, saya telah bertemu keluarga saya dan kami memutuskan untuk menyumbangkan delapan juta Krona Swedia untuk para korban,” kata Santos.

Santos mengumumkan hal itu di kota Bojaya, setelah menghadiri upacara keagamaan bagi orang-orang yang terdampak konflik tersebut.

Presiden Santos telah menandatangani kesepakatan damai dengan Timoleon Jimenez, pemimpin kelompok pemberontak FARC, namun rakyat Kolombia menolaknya lewat referendum, Minggu (2/10/2016).

Sekitar 50,24 persen suara menentang perjanjian tersebut. Para pengkirik berpendapat pemerintah terlalu banyak memberi konsesi kepada pihak pemberontak.

Namun Komite Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia, berpendapat Presiden Santos tetap berjasa dalam mengupayakan perdamaian.

“Penghargaan seharusnya dilihat sebagai penghormatan kepada rakyat Kolombia,” kata Kaci Kullmann Five, Ketua Komite Nobel Perdamaian, saat mengumumkannya, Jumat 7 Oktober.

Adapun Presiden Santos telah berjanji akan menghidupkan kembali kesepakatan yang sudah ditolak lewat referendum.

Juru runding pemerintah Kolombia sudah kembali ke Havana, Kuba untuk menggelar diskusi lebih lanjut dengan para pemimpin kelompok pemberontak FARC.

“Saya mengucapkan selamat kepada Presiden Juan Manuel Santos, Kuba dan Norwegia, yang mensponsori proses perdamaian, serta pemerintah Venezuela dan Cile, yang ikut membantu. Tanpa mereka, perdamaian tidak akan mungkin terjadi,” ujar pemimpin FARC, Rodrigo Londono alias Timoleon Jimenez.(kcm/ziz)