Penipuan Deposito, Bekas Pegawai BTPN Dituntut 4 Tahun, Dua Rekannya Lolos

oleh
Terdakwa kasus pemalsuan dan penipuan bermodus simpanan deposito abal-abal, Yayuk Lestari Ningsih menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (22/1).

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Pegawai Bank Tabungan Pensiunan Nasional Yayuk Lestari Ningsih dituntut 4 tahun penjara dalam kasus pemalsuan surat perbankan dan penipuan deposito abal-abal senilai Rp 2,8 miliar.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jatim, Muhammad Usman dalam tuntutannya menyebutkan, terdakwa telah terbukti melanggar pasal 263 tentang pemalsuan surat.

“Terdakwa Jayuk Lestari Ningsih terbukti melakukan perbuatan melawan hukum sesuai pasal 263 tentang pemalsuan dengan hukuman 4 tahun penjara” ujar JPU, Muhammad Usman membacakan tuntutanya diruang sidang Kartika I PN Surabaya, Senin (22/1).

Sayangnya, JPU mengabaikan dua pasal lain yang sebelumnya disebutkan dalam nota dakwaan. Dua pasal tersebut yakni pasal 372 tentang penggelapan dan pasal 378 tentang penipuan. Jaksa berdalih,  terdakwa hanya dikenakan tuntutan satu pasal 263 ayat 1 lantaran dakwaan dua pasal lain tidak terbukti selama proses persidangan.

Hal ini tentu saja disayangkan oleh kuasa hukum terdakwa, Irma Rahwati. Ia menuding ada indikasi main mata jaksa dengan dua saksi kolega terdakwa yang seharusnya ikut diseret sebagai pesakitan di meja hijau.

”Dua saksi, Ita dan Candra Kartika (bekas rekan terdakwa di BTPN) seharusnya layak jadi tersangka,” kata Irma.

Menurut Irma, jika dua pasal pada dakwaan yaitu pasal 372 tentang penipuan dan pasal 378 tentang penggelapan bisa menyeret Ita dan saksi Candra Kartika yang ikut terlibat dalam kasus pemalsuan dan penipuan bermodus simpanan deposito abal-abal.

“JPU hanya membacakan pasal tunggal 263 tentang pemalsuan. Dua pasal 372 dan 378 tidak dibacakan oleh JPU. Mungkin jika kedua pasal (372 dan 378) ikut dibacakan saat tuntutan bisa terseret dua saksi Ita dan Candra Kartika,” ujar Irma Rahmawati.

Sebelumnya, Irma menilai kedua saksi ini turut serta melakukan pemalsuan dokumen scanner dan deposito bilyet Bank Panin serta menikmati sejumlah uang dari hasil penipuan dan penggelapan.

“Saya harapkan putusan hakim nanti menyatakan dua saksi (Ita dan Candra) sesuai pasal 55 ayat (1). Karena mereka turut serta bersama-sama dalam pemalsuan dokumen,” kata Irma.

Dalam sidang sebelumnya, kesaksian seorang pegawai BTPN Surabaya Yusmiati menguatkan dugaan keterlibatan dua rekan terdakwa, Candra dan Ita.  Saksi Yusmiati menyebut, jika Ita dan Candra memang satu tim dengan terdakwa di divisi marketing BTPN Surabaya Jalan Kertajaya Nomor 30. (Baca: Pegawai BTPN Sebut Dua Saksi Satu Tim dengan Terdakwa Penipuan Deposito).

“Semua orang kantor tahu jika Ita, Candra dan terdakwa ini satu tim saat masih bekerja di Bank BTPN,” ujar Yusmiati warga Jalan Pakis Blora, Surabaya dalam kesaksiannya di sidang lanjutan kasu spenipuan di PN Surabaya, Rabu (10/1) lalu. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *