Penipuan Jual Beli Lahan, Henry J Gunawan Dituntut 4 Tahun Penjara

oleh
Bos PT Gala Bumi Perkasa, Henry J Gunawan mendengarkan jaksa membacakan surat tuntutan setebal 79 halaman di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (26/2). Henry dituntut 4 tahun penjara atas perkara penipuan jual beli lahan.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Henry Jacosity Gunawan dituntut hukuman 4 tahun penjara dalam perkara penipuan jual beli tanah di kawasan Celaket, Malang. Jaksa menyebut, Henry melakukan banyak tindak pidana penipuan dalam jual beli lahan seluas

“Menuntut terdakwa Henry Jacosity Gunawan dengan pidana penjara selama 4 Tahun, “kata Jaksa Ali Prakoso membacakan surat tuntutan setebal 79 halaman di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (26/2).

Jaksa Ali Prakoso mengatakan, terdakwa dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 372 KUHP tentang penggelapan. Berdasarkan keterangan saksi-saksi dan bukti yang dihadirkan dalam persidangan, Jaksa Ali Prakoso menyatakan perbuatan Henry Gunawan terbukti melanggar dakwaan pertama yakni 378 KUHP.

Terdakwa Henry dinilai terbukti melakuan perbuatan dengan memakai nama palsu atau tipu muslihat untuk menggerakan orang lain menyerahkan barang. Terdakwa Henry, kata jaksa, menipu Hermanto saat menawarkan tanah di Celaket, Malang.

“Saat jual beli, terdakwa Henry juga mengaku kepada Hermanto (Pembeli) sebagai pemilik PT GPB, padahal saat itu dia bukan sebagai pemilik PT GBP. Sehingga korban tertipu dan  mau menyerahkan uang sebesar 4,5 milliar rupiah itu,” kata Jaksa Ali Prakoso.

Salah satu penipuan paling fatal yang dilakukan terdakwa Henry adalah menjual lagi tanah tersebut kepada pihak lain dengan hara Rp 10,5 miliar. Padahal Henry sudah menjualnya kepada Hermanto melalui akta jual beli yang disahkan Notaris Caroline C Kalampung dengan harga Rp 4,5 miliar.

Untuk melancarkan aksi penipuannya ini, terdakwa Henry melalui anak buahnya meminjam sertifikat hak guna bangunan (SHGB) tanah yang sudah dijualnya ke Notaris Caroline. Dalihnya, SHGB itu akan diperpanjang.

“Dan pada kenyataannya, sertifikat yang dipinjam dari Notaris Caroline untuk tujuan perpanjangan justru tidak dikembalikan,” kata Jaksa Ali Prakoso.

Dalam tuntutan tersebut, Jaksa tidak menemukan adanya alasan yang bisa meringankan tuntutan terhadap Investor dan Pengelola Pasar Turi Baru itu. Menurutnya, sikap berbelit-belit terdakwa yang  tidak mengakui perbuatannya justru menjadi pertimbangan yang memberatkan tuntutan.

“Terdakwa Henry berbelit-belit dan tidak menyesali perbuatannya serta sudah menikmati hasil kejahatannya.  Sedangkan yang meringankan, terdakwa tidak pernah dihukum,” kata Jaksa Ali Prakoso.

Atas tuntutan tersebut, terdakwa melaui tim penasehat hukumnya mengaku akan mengajukan nota pembelaan, yang akan dibacakan pada persidangan satu pekan mendatang.

“Kami ajukan pledoi, minta waktu satu minggu,” ujar Siddik Latuconsina, penasehat hukum Henry.

Terpisah, Anggota Komisi III DPR RI, Irjen Polisi Purnawirawan,  Drs Eddy Kusuma Wijaya, SH,MH,MM mengapresiasi tuntutan jaksa. “Kejahatan Henry adalah Kejahatan Masif dan terstrukur, sudah sepantasnya dia dituntut maksimal,” terang Mantan Kapolwiltabes Surabaya ini saat dikonfirmasi melaui selulernya.

Politisi PDI Perjuangan ini berharap agar hakim Unggul Mukti Warso selaku ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara ini juga menjatuhkan putusan yang maksimal.

“Hakim juga harus berani menjatuhkan hukuman maksimal, karena Henry ini banyak kasusnya. Dan bila perlu ada aturan bagi hakim untuk bisa menghukum Henry lebih berat dari tuntutan jaksa,”pungkas Eddy Kusuma.

Seperti diketahui, Henry J Gunawan dilaporkan oleh Notaris Caroline C Kalampung. Saat itu, Notaris Caroline mempunyai seorang klien yang sedang melakukan jual beli tanah sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban tak kunjung menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB).

Namun, Saat korban ingin mengambil haknya, Henry J Gunawan mengaku bahwa SHGB tersebut di tangan notaris Caroline. Namun setelah dicek, Caroline mengaku bahwa SHGB tersebut telah diambil seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. SHGB itu ternyata dijual lagi ke orang lain oleh Bos PT Gala Bumi Perkasa itu dengan harga Rp 10,5 miliar. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *