Perang Mata-mata, Rusia Hadapi Gempuran 21 Negara

oleh
Perdana Menteri Inggris dan Presiden Rusia yang terlibat perang mata-mata.

GLOBALINDO.CO, LONDON – Rusia menghadapi perang mata-mata melawan 21 negara di seluruh dunia. Perang mata-mata ini dipicu kasus percobaan pembunuhan terhadap agen ganda bernama Sergei Skripal di Inggris.

Hingga kini sudah ada 130 diplomat Rusia yang diusir dari 21 negara di seluruh dunia. Rinciannya, 16 negara merupakan anggota Uni Eropa (UE), Amerika Serikat (AS), Kanada, Ukraina, Norwegia, dan Albania.

Amerika Serikat menjadi negara terbanyak dengan mengumumkan 60 diplomat Rusia yang harus segera keluar setelah mereka diduga merupakan agen asing. 48 dari total diplomat yang diusir bekerja di Kedutaan Besar Rusia di Washington. Adapun sisanya merupakan staf di markas besar PBB di New York.

(Baca Juga: Rusia-Amerika Pemanasan Perang Dunia III di Suriah)

Dalam pidatonya di Majelis Rendah Parlemen Inggris, Perdana Menteri Theresa May berkata kalau solidaritas telah ditunjukkan oleh UE, maupun anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Dia menyebut, aksi tersebut merupakan pengusiran kolektif terhadap agen rahasia Rusia terbesar dalam sejarah.

“Bersama, kita telah menyebarkan pesan bahwa kita tidak akan membiarkan Rusia mencemooh hukum internasional merendahkan kedaulatan kita,” kata May.

Sementara itu, Rusia menyatakan jika mereka tidak ada sangkut pautnya dengan percobaan pembunuhan terhadap Skripal dan putrinya Yulia.

“Sikap provokatif dari negara-negara yang mengikuti Inggris tanpa memandang duduk persoalan sebenarnya hanya akan mengeskalasi konfrontasi,” kata Kemenlu Rusia melalui pernyataan resminya.

Sebelumnya, Skripal dan putrinya ditemukan dalam kondisi tidak sadar di sebuah bangku di Salisbury (4/3/2018). May menuduh Kremlin pelakunya setelah mereka menemukan senyawa bernama Novichok dalam tubuh keduanya.

Novichok merupakan racun saraf yang diklaim paling mematikan dan dibuat di era Uni Soviet pada 1970-an. Pada 14 Maret, May mengumumkan pengusiran terhadap 23 diplomat Rusia setelah mereka diidentifikasi sebagai mata-mata yang menyusup ke London.

Kremlin kemudian membalas Inggris dengan mengusir 23 diplomat, serta menghentikan kantor organisasi internasional British Council.(kcm/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *