Perda 6 Tahun 2016 Belum Diundangkan, Pemkot Surabaya Salahkan Anggota Dewan

oleh
Kabag Hukum Pemkot Surabaya, Ira Tursilowati (dua dari kanan) saat hearing dengan Komisi B. 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, akhirnya angkat bicara terkait belum diundangkannya Perda nomor 6 tahun 2016 tentang larangan peredaran minuman berlakohol secara total.

Kabag Hukum Pemkot Surabaya Ira Tursilowati menegaskan, saat ini proses pengundangan Perda nomor 6 tahun 2016 berada di tangan DPRD. Hal ini berkaitan dengan rekomendasi kajian terkait Perda itu dari Pemprov Jawa Timur.

“Karena berdasarkan kajian itu, bahasanya adalah pembatasan dan bukan pelarangan total,” kata Ira seusai melakukan dengar pendapat dengan Komisi B DPRD Kota Surabaya, Selasa (24/4/2018).

Menurut Ira, hasil kajian yang dikeluarkan Pemprov Jatim waktu itu telah dikirimkan ke DPRD Surabaya, pada tanggal 19 Agustus 2016 untuk meminta tanggapan karena statusnya adalah Perda Inisiatif.

“Jadi, sebelum mengundangkan itu, kami menunggu tanggapan DPRD Kota Surabaya terlebih dahulu,” tambahnya.

Di sisi lain, Ira juga mengungkapkan bahwa Perda nomor 1 tahun 2010 sesungguhnya sudah cukup meregulasi tentang minuman beralkohol. Tinggal menunggu penegakan aturan yang dilakukan Satpol PP.

“Kalau mau ditarik ke pihak kepolisian pun juga sebenarnya bisa melalui KUHAP. Kan unsur pidananya juga sudah ada,” tandas Ira.

Untuk diketahui, hingga malam tadi tercatat sudah ada 12 warga meninggal dunia akibat menenggak minuman mematikan itu. Banyaknya warga yang meninggal dunia membuat Surabaya dalam kondisi darurat miras oplosan.

“Sudah 12 hingga malam ini yang meninggal diduga miras dalam kurun waktu beberapa hari. Saya pikir ini bisa dikatakan dengan darurat miras,” kata Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Reni Astuti.

Karena statusnya sudah darurat, menurutnya, penanganan yang dilakukan juga tidak boleh melalui cara biasa. Politisi dari PKS ini mendorong pihak rumah sakit bekerjasama dengan pihak kepolisian.

“Tujuannya untuk mendeteksi korban-korban yang sudah ada untuk ditelusuri tempat tinggalnya, aktivitasnya untuk kemudian sumbernya bisa jelas,” jelasnya. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *