Skenario Duetkan Jokowi-AHY Didorong Lewat Survei

oleh
Simulasi Capres-Cawapres 2019 paling potensial dikerucutkan pada kontestasi dua pasangan kandidat yakni Joko Widodo-Agus Harimurti Yudhoyono (kiri) dan Prabowo Subianto-Anies Baswedan (kanan).

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Kontestasi Pemilihan Presiden 2019 mulai dikerucutkan menjadi hanya dua pasangan kandidat berdasar ideologi nasionalis dan relijius. Hasil survei Lembaga Indo Baromoter, pasangan dari barisan nasionalis-abangan Joko Widodo (incumbent) dan Agus Harimurti Yudhoyono diramalkan mampu mengkandaskan duet yang dijagokan kelompok relijius Prabowo Subianto-Anies Baswedan.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, dalam skenario kontestasi Jokowi melawan pasangan Prabowo-Anies, maka Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) adalah sosok yang paling berpeluang menjadi pendamping Jokowi untuk memenangkan Pilpres 2019. Menurut Qodari, 38,6% responden akan memilih pasangan Jokowi-AHY jika melawan Prabowo-Anies yang didukung 22,2% responden.

Apabila bukan AHY, maka sosok lain yang punya potensi besar mendampingi Jokowi adalah mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Pasangan Jokowi-Gatot Nurmantyo dipilih 38,4% responden ketika melawan Prabowo-Anies yang didukung 22,4% responden.

Sementara, Jokowi akan dipilih 37,5% responden jika didampingi Ridwan Kamil ketika melawan Prabowo-Anies yang didukung 22,4% responden. Kemudian, sebanyak 37% responden akan memilih Jokowi jika berpasangan dengan Tito Karnavian saat melawan Prabowo-Anies yang didukung 21,5% responden.

Adapun, 36,8% responden akan memilih Jokowi jika berpasangan dengan Sri Mulyani Indrawati melawan Prabowo-Anies yang didukung 21,9% responden.

Jika komposisi pasangan capres-cawapres ini diacak, Jokowi diduetkan dengan Prabowo, hasilnya 48% responden akan memilih pasangan ini. Melawan pasangan Budi Gunawan-Anies Baswedan yang hanya didukung 3,9% responden. Sebanyak 50,2% responden akan memilih Jokowi-Prabowo jika melawan Anies-Budi yang hanya didukung 3,3% responden.

Berikutnya, sebanyak 49,5% responden akan memilih Jokowi-Prabowo jika melawan Gatot Nurmantyo-Anies Baswedan yang hanya didukung 4,5% responden. Adapun, Jokowi-Prabowo akan unggul 49,7% jika melawan pasangan Anies-Gatot yang hanya didukung 4,2% responden.

“Jadi kalau Jokowi berpasangan dengan Prabowo, saya berani katakan Pilpres selesai,” kata Qodari di Hotel Century Atlet, Jakarta, Kamis (15/2).

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Aryo Djojohadikusumo mengatakan, majunya Prabowo dalam Pilpres 2019 masih akan menunggu hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait gugatan uji materi ambang batas presiden (presidential threshold).

“Tunggu tanggal mainnya. Kalau tidak ada presidential threshold pasti maju, tapi kalau lebih bijak ya tunggu,” kata Aryo.

Sementara Koordinator bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Jawa dan Kalimantan Nusron Wahid meyakini Jokowi akan memenangkan Pilpres 2019 siapapun pendampingnya nanti. Namun, dia menyatakan hal tersebut akan terjadi jika isu SARA tak dimunculkan kembali.

Nusron memprediksi jika Jokowi tak akan melawan Prabowo pada Pilpres 2019. Sebab, Prabowo tidak akan mencalonkan diri sebagai calon presiden.

“Saya meyakini dan kami sudah persiapan. Lawannya Pak Jokowi bukan Pak Prabowo, entah siapa orangnya nanti,” kata Kepala Badan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) ini.

Survei Indo Barometer dilakukan pada periode 23-30 Januari 2018 yang melibatkan 1.200 responden di seluruh Indonesia. Pemilihan responden dilakukan secara acak (multistage random sampling) dengan margin of error (tingkat kesalahan) sebesar 2,83% dan tingkat kepercayaan sebesar 95%.

Survei Indo Barometer ini seolah menggiring skenario penyandingan kandidat dari dua kutub politik –sesama pengusung ideologi nasionalis- yang selama ini berseberangan, PDIP yang diwakili Jokowi dengan Partai Demokrat yang memunculkan AHY.

Bagi pengamat politik Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengatakan, koalisi PDI-Demokrat dengan skenario memasangkan Jokowi-AHY bersifat sangat pragmatis dan taktis Demokrat demi kepentingan Pilkada 2018. Setelah itu, Demokrat belum tentu mengarahkan dukungannya untuk Jokowi pada jelang Pileg 2019 nanti.

“Sehingga ketika mereka memenangkan pilkada terutama di daerah besar, peluang untuk dapat pileg dan pilpres di daerah tersebut juga sangat besar tanpa harus peduli apakah mereka akan berkoalisi lagi atau tidak,” kata Yunarto belum lama ini.

Di Pilgub Jabar, Demokrat dan Golkar berkoalisi mengusung Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Sementara di Jawa Timur, kedua partai bersama dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan partai pemerintah lainnya berkoalisi mengusung Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak.

Sementara itu di pilgub Kalimantan Barat, PDIP mengusung kadernya, Karolin Margret Natasa sebagai calon gubernur berpasangan dengan kader Demokrat Sutyadman Gidot sebagai calon wakilnya. (kata/adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *