Permudah Pendataan Penduduk, Dispendukcapil Akan Bentuk RT di Apartemen

oleh
Apartemen Puncak Kertajaya.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Banyaknya jumlah apartemen di Surabaya mendapat perhatian serius dari Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surabaya Suharto Wardoyo. Salah satunya terkait masalah pendataan jumlah penduduk yang tinggal di apartemen.

Suharto Wardoyo menuturkan, untuk memudahkan pendataan penduduk di apartemen pihaknya akan membentuk RT di seluruh apartemen yang ada di kota pahlawan. Saat ini rencana itu sedang digodok bersama DPRD Surabaya.

Menurut Suharto Wardoyo Dinas Kependudukan dan anggota dewan tengah membara Rancangan peraturan daerah (Raperda) perubahan atas peraturan daerah Kota Surabaya nomor 5 tahun 2011 tentang penyelenggaraan administrasi kependudukan.

“Sebisa mungkin apartemen membuat RT. Pemantauan terhadap penduduk itu harus, maka ini harus diatur dalam perda,” ujar Suharto Wardoyo, Selasa (23/10/2018).

Menurutnya, jumlah apartemen di Kota Pahlawan cukup banyak, sekitar 50. Selama ini, para penghuni merasa kesulitan dalam mengurus administrasi kependudukan. Mereka meminta ke RT sekitar apartemen tentu juga sulit dipenuhi.

“Kesulitan mau mgurus kependudukan, harus ada RT RW, karena belum ada akhirnya minta pengantar daru RT RW sekitarnya, karena tidak kenal pengurus RT juga tidak mau bantu, inilah kesulitannya,” ungkapnya.

Dalam raperda yang sudah memasuki pembahasan pasa per pasal akan dicantumkan kewajiban pengelola melaporkan kepada RT RW. Selain itu, penghuni harus memiliki surat pernyataan jaminan tempat tinggal dari RT RW atau pegelola apartemen apabila RT RW tidak bisa memberikan.

Sementara itu, anggota panitia khusus (pansus) raperda Vinsensius menambahkan, penghuni apartemen harus memiliki pengantar tempat tinggal dari RT RW. Di raperda ini, ada klausul penambahan pengelola apartemen atau manajemen bisa mengeluarkan surat pengantar.

“Ada kesulitan karena kadang RT RW tidak mau melayani karena tidak tahu mereka (penghuni),” jelasnya.

Politisi Partai Nasdem ini mengaku, pansus tidak mau penghuni apartemen mendapat kemudaha dari menajemen. Karena Pemkot harus selalu melakukan konitoring terhadap penduduk Surabaya.

“Karena dispendukcapil mau masuk (apartemen) kesulitan akses, keamanan berlapis-lapis,” terang Awey, sapaannya.

Awey mengupayakan, setiap apartemen bisa membuat RT sendiri. Memang secara aturan minimal 70 kepala keluarga (KK). Hanya saja, untuk kasus tertentu, aturan itu harapannya bisa memberi kemudahan.

“Kami mau andai RT tidak bisa dibentuk, pengelola atau manajemen hanya menjadi mediator saja,” tandasnya. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *