Pertumbuhan Ekonomi Melambat di Kuartal III, Jokowi Yakin Tumbuh 5,2% di Akhir Tahun

Presiden Joko Widodo memaparkan kondisi ekonomi RI di kuartal III tahun 2016 yang sedikit melambat. Tapi ia yakin ekonomi akan tumbuh sampai 5,2 persen hingga akhir tahun ini.

Presiden Joko Widodo memaparkan kondisi ekonomi RI di kuartal III tahun 2016 yang sedikit melambat. Tapi ia yakin ekonomi akan tumbuh sampai 5,2 persen hingga akhir tahun ini.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Presiden Joko Widodo optimistis pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun 2016 akan berada di kisaran 5,2 persen. Meskipun, pada kuartal III pertumbuhan ekonomi RI mengalami pelambatan.

Menurut Jokowi, melambatnya ekonomi RI pada kuartal ketiga ini tak terlepas dari perlambatan ekonomi dunia.

“Kami optimistis naiknya sedikit-sedikit, tetapi yang penting naik. Kuartal ketiga ini tumbuh 5,02 persen, kami berharap, pada kuartal keempat paling tidak kan 5,1-5,2 persen. Artinya, ada kenaikan meskipun sedikit. Ini optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bagus saat pertumbuhan ekonomi negara lain terus turun,” terang Jokowi, Rabu (9/11).

Selain karena faktor itu, tingkat kemudahan berbisnis atau ease of doing business Indonesia yang dilansir oleh Bank Dunia menyebutkan peringkat Indonesia meningkat menjadi 91 dari sebelumnya 109.

Kendati hasilnya menunjukkan perbaikan bagi Indonesia, Presiden Jokowi meminta masyarakat agar tidak buru-buru bertepuk dada merayakan hal tersebut. Sebab Jokowi menargetkan ease of doing business RI menembus peringkat 40  menyusul negara tetangga seperti, Singapura, Malaysia, atau Thailand. Makanya, ia mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan untuk menggapai mimpi tersebut.

“Loncatannya memang cukup besar, tapi jangan ditepuki terlebih dahulu karena target saya itu peringkat 40,” tutur mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Korupsi dan efisiensi proses birokrasi dinilai masih menjadi masalah terbesar yang membelenggu dunia usaha. Korupsi yang dimaksud, yakni berkaitan dengan praktik pungutan liar (pungli) yang akhir-akhir ini baru terungkap di Kementerian/Lembaga, salah satunya Kementerian Perhubungan. Hal itu jelas mengganggu iklim berbisnis di Indonesia.

Terkait itu, pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi 1 hingga 13 untuk memberikan kemudahan dalam berbisnis. Namun, beberapa paket kebijakan ekonomi tersebut nyatanya belum mampu mendongkrak peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia sesuai dengan keinginan Jokowi.

Sebelumnya,  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui  peregerakan ekonomi RI hingga hari ini masih lesu. Dibanding kuartal III 2015, pengeluaran konsumsi pemerintah kuartal III 2016 minus 2,97 persen. (Baca: Menkeu Akui Denyut Ekonomi RI Lemah)(cni/gbi)