Perusahaan Investasi Pertamina Sudah Tak Ada di Australia

oleh
ROC Oil Company Ltd.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Perusahaan milik ROC Oil Company Ltd yang sebagian asetnya dibeli oleh PT Pertamina (Persero) melalui investasi Interest Participating (IP), ternyata sudah tidak ada di Australia. Dari kejanggalan itulah, Kejaksaan Agung menduga adanya penyimpangan dalam investasi senilai USD 31,91 juta atau setara Rp 348.342.424.911 (kurs tahun 2009) dan melibatkan mantan Dirut Pertamina, Karen Agutiawan.

Pertamina membeli sebagian asset membeli sebagian aset ROC Oil Company berdasarkan pada Agreement for Sale and Purchase BMG Project tanggal 27 Mei 2009. Berdasarkan penelusuran dari laman resmi ROC Oil Company Ltd, perusahaan tersebut telah diambil alih 90% sahamnya oleh Fosun International Limited pada November 2014. (Baca: Mantan Dirut Pertamina Jadi Tersangka Dana Investasi).

“Perusahaan yang semula informasinya sebelumnya ada di Australia, sekarang sudah tidak di Australia,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Adi Toegarisman di kantornya, Jakarta, Kamis (5/4).

Para pemegang saham di ROC Oil Company menerima tawaran USD 0,69 per lembar. Fosun kemudian menyatakan niatnya memperoleh sisa saham ROC Oil Company sesuai aturan perusahaan yang berlaku pada Desember 2014.

ROC Oil Company kemudian dihapus dari daftar Australian Securities Exchange (ASX) pada akhir Januari 2015 dan terus beroperasi sebagai perusahaan hulu minyak dan gas di bawah Fosun. Fosun merupakan grup investasi besar yang operasi dan kepentingan bisnisnya berbasis di Tiongkok dan Hong Kong.

Adi menyebut Indonesia tak mendapatkan keuntungan apa-apa dari adanya investasi Pertamina di ROC Oil Company. Investasi tersebut justru diperkirakan merugikan negara lebih dari Rp 568 miliar.

“Kenyataannya dalam proses pelaksanaan investasi ini ternyata tidak mendapatkan apa-apa,” kata Adi.

Dugaan penyimpangan juga ditemukan dalam proses studi kelayakan (feasibility studies) yang tak tuntas saat proses pembelian aset. Adi juga menyebut pengambilan keputusan pembelian aset tanpa persetujuan dari Dewan Komisaris Pertamina.

Adi mengklaim kejaksaan memiliki dua bukti permulaan salam proses penyidikan ini. Namun, dia enggan menjelaskan alat-alat bukti yang telah dimiliki kejaksaan.

“Saya berkepentingan untuk tidak menyampaikan secara keseluruhan karena menyangkut strategi penanganan perkara ini,” tuturnya. Adi enggan menjelaskan laporan yang menjadi dasar kejaksaan menyelidiki kasus ini.

“Saya tidak boleh mengungkap dari mana sumber fakta, tapi yang saya cari adalah faktanya, itu yang saya pertahankan di pengadilan nanti,” kata Adi.

Kejaksaan Agung dalam kasus korupsi investasi Pertamina di Blok BMG Australia ini telah menetapkan mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan sebagai tersangka. Atas perbuatannya, Karen pun disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam perkara ini, kejaksaan agung telah menetapkan empat orang tersangka. Mereka yakni Karen, Chief Legal Councel and Compliance Pertamina Genades Panjaitan, mantan Direktur Keuangan Pertamina Frederik Siahaan dan mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu Pertamina berinisial BK. Sebelum menetapkan para tersangka, kejaksaan mengklaim telah memeriksa 67 saksi dari berbagai pihak. (kat/nad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *