Pidato “Pribumi” Anies Tabrak Inpres

No comment 62 views

Gubernur DKI Jakarta 017-2022 Anies Baswedan menyampaikan pidato pertamanya di Balai Kota usai dilantik bersama Wagub Sandiaga Uno, Senin (17/10). Pidato pertama Anies ini langsung memicu kontroversi karena menyebut istilah pribumi.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Baru beberapa jam dilantik, Gubernur DKKI Jakarta 2017-2022 Anies Baswedan langsung menyulut kegaduhan. Pidato pertama Anies usai dilantik, Senin (17/10), yang menyebut kata ‘pribumi’ memantik pro kontra karena dianggap SARA dan menabrak Instruksi Presiden Tahun No. 26 Tahun 1998.

Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan, Presiden RI ke-3 BJ Habibie melarang penggunanaan istilah pribumi dan non pribumi dalam acara resmi ataupun tidak resmi serta dalam dokumen-dokumen.

Pada poin pertama, Inpres itu memerintahkan kepada Menteri, pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Gubernur, Bupati/Walikota untuk, “Menghentikan penggunaan istilah pribumi dan non pribumi dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan, perencanaan program, ataupun pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.”

“Kenapa pribumi, non pribumi tidak digunakan? Karena secara sosial akan berbeda perlakuan dan kedudukan kemasyarakatan dan pemerintahannya. Dalam UUD 45 kan semua warga negara sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan,” tutur pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Parahyangan, Bandung, Asep Warlan Yusuf, Selasa (17/10).

Inpres itu sendiri tidak mencantumkan sanksi jika ada pelanggaran dilakukan. Kendati penyebutan istilah pribumi tidak memberikan dampak hukum, Anies selaku Gubernur DKI tetap melanggar etika moral berat.

“Secara hukum tidak ada masalah, karena tidak ada sanksi. Tapi secara sosial itu disayangkan. Kurang update aja dia. Apa manfaatnya” tandas Asep.

Dalam pidato pertama di balai Kota DKI Jakarta, Anies berjanji akan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta.

“Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka, saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Anies Baswedan.

Jakarta, menurut Anies, bukan hanya sekadar Kota, tapi juga Ibu Kota. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini bahkan menyebut, warga ibukota telah dijajah oleh kolinialis era modern.

“Penjajahan di depan mata itu di Jakarta, selama ratusan tahun, di tempat lain penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta kolonialisme di depan mata dirasakan sehari-hari,” katanya.

Karena itulah, Anies menegaskan saatnya masyarakat Indonesia merasakan manfaat kemerdekaan.

“Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan, mengusir kolonialisme, kita harus merasakan manfaat kemerdekaan kemerdekaan,” katanya. (cni/gbi)