Pimpinan KPK Anggap Laporan Novanto ke Polisi Tak Seberapa Dibanding Penderitaan Novel

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (kiri) dan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (kanan).

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Selain dua pimpinan, Bareskrim Polri ternyata juga memproses laporan pengacara Setya Novanto terhadap 24 penyidik lembaga antirasuah terkait kasus dugaan penyalahgunaan wewenang dan pemalsuan dokumen terkait surat perintah pencegahan ke luar negeri.

Tetapi laporan ini justru ditanggapi biasa saja oleh dua pimpinan KPK. Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang menganggap, pelaporan terhadap 24 penyidik termasuk Direktur Penyidikan KPK Aris Budiman justru membuktikan lembaganya sudah bekerja berdasarkan sistem yang telah berjalan dan tidak bisa digerakkan atas kemauan satu dua orang tertentu.

“Ya karena kan disebutkan bahwa mereka (24 Penyidik) bagian dari sistem. Yang menuntut juga kan menganggap bahwa mereka juga bagian dari sistem di KPK,” kata Saut usai memimpin upacara peringatan Hari pahlawan di halaman Gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/11).

Saut menyatakan, surat perintah pencegahan terhadap Novanto yang dia tandatangani bersama Ketua KPK Agus Rahardjo bukan berasal dari keinginannya pribadi. Sebaliknya surat pencegahan itu telah melalui proses mulai dari gelar perkara dengan sejumlah pihak berwenang di lembaganya hingga diputuskan secara kolektif kolegial oleh pimpinan KPK.

“Saut Situmorang menandatangani itu bukan keinginan saya pribadi, ya enggak. Itu memang sistem yang bekerja. Ya penyidik yang mengajukan langkah-langkah berikut seperti apa, dan pimpinan memutuskan. Jadi itu sudah betul, karena mereka bagian dari sistem. Itu menunjukkan nanti kita menjawab bahwa sistem bekerja di KPK,” tegasnya.

Menurut Saut, pelaporan terhadap dirinya dan Agus bersama 24 penyidik KPK tidak seberapa dibanding dengan teror yang dilakukan terhadap Novel Baswedan.

”Apa yang kami alami nggak ada sejengkal-sejengkalnya dari yang dialami oleh Novel kan,” katanya.

Diketahui, Novel disiram air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Akibatnya, Novel harus dirawat intensif di salah satu rumah sakit di Singapura hingga kini karena kedua matanya terluka parah.

Bahkan, Novel harus menjalani serangkaian operasi untuk memulihkan kedua matanya. Saut menilai, ketimbang Novel yang terluka parah, kasus dugaan pemalsuan surat yang dihadapinya tak seberapa. Paling maksimal, Saut mengatakan dirinya hanya dihukum pidana selama 2 tahun.

“Saya baru dilaporin, kalau dipenjara paling-paling dihukum berapa? 2 tahun. Ya, nggak hukuman mati kan. Dibandingkan dengan Novel yang sebegitu, sampai seumur hidupnya jadi seperti itu,” ungkap Saut. (bes/nad)