Pledoi Bekas Pegawai Bank CTBC Sudutkan Dua Rekannya, Kacab Kena Sentil

oleh
Tiga terdakwa menjalani sidang pembacaan pledoi kasus penipuan dan pengajuan kredit fiktif 13 perusahaan di Bank CTBC, Kamis (19/4) di Pengadilan Negeri Surabaya. Dari kanan: Ade Dian Sanura saat membacakan sendiri pledoinya dan dua terdakwa lain, Budi Anak Robert Taning serta Rudi Desmon Tampi.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Tiga terdakwa kasus penipuan pengajuan kredit fiktif Bank CTBC Surabaya mengakui dan menyesali perbuatannya. Lebih dari itu pihak terdakwa masih menganggap yang paling bertanggung jawab atas lolosnya kredit fiktif sebesar Rp 16,5 miliar adalah Kepala Cabang Bank CTBC  Surabaya, Fransisca Leonora Wiharjo.

Pengakuan ini disampaikan ketiga terdakwa dalam nota pembelaan (pledoi) yang dibacakan di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (19/4). Dua dari tiga terdakwa bekas Sales Officer (SO) Bank CTBC yakni, Budi Anak Robert Taning serta Ade Dian Sanura membacakan pledoinya sendiri tanpa didampingi kuasa hukum.

“Saya akui perbuatan pemalsuan dokumen kredit dan berjanji tidak akan mengulanginya di kemudian hari,” ujar terdakwa Ade Dian Sanura di ruang sidang Tirta II.

Hal senada juga dibacakan oleh terdakwa Budi Anak Robert dirinya mengakui perbuatanya dan meminta majlis hakim untuk meringankan hukuman dengan dalih dirinya menjadi tulang punggung keluarga.

Sementara pledoi dari terdakwa Rudi Desmon Tampi dibacakan oleh tim kuasa hukumnya.  Dalam pledoinya, Rudi yang juga bekas Account Officer (AO) Bank CTBC menyudutkan dua terdakwa lain yakni Budi Anak Robert dan Ade Dian Sanura selaku Sales Officer (SO) sebagai pelaku utama pemalsuan data aplikasi permohonan pengajuan kredit.

“Sesuai fakta persidangan yang melakukan pemalsuan data aplikasi kredit Salary Loan (KTP, SLIP gaji, Rekening Bank) Sales Officer Bank CTBC Surabaya yakni terdakwa Ade Diyan Sanura dan Budi Anak Robert Taning,” ujar kuasa hukum Rudi Desmon, Agus Dwi Suwarno.

Selain dua terdakwa, Agus juga kembali memojokkan, Kepala Cabang Bank CTBC Fransisca Leonora Wiharjo sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas lolosnya proposal pengajuan kredit dari 13 perusahaan. Tudingan itu berdasar keterangan saksi Ahli Perbankan Liosten R.R Ully Tampubolon, bahwa pimpinan cabang yang bertanggung jawab memeriksa pengajuan kredit sesuai prosedur (SOP) bank dan alur pengajuan kredit Salary Loan.

“Job disc (deskripsi kerja) dari kepala cabang adalah mengevaluasi dan monitoring seluruh tugas sehari-hari di kantor cabang”. (Baca: Kacab Bank CTBC Disebut Terlibat Penggelapan Kredit Macet Rp 16,3 Miliar).

Kuasa hukum terdakwa Rudi Desmon juga mengutip keterangan saksi Condro bagian audit internal Bank CTBC. Saksi menyatakan kredit Salary Loan tidak bisa dilakukan apabila tidak ada Mou antara perusahaan dengan Bank CTBC.

“Saksi (Condro) dengan jelas menyatakan jika yang menandatangani Mou adalah AO dan kepala cabang untuk pihak Bank CTBC serta HRD dan Direktur untuk pihak perusahaan yang mengajukan kredit.”

Setelah pembacaan pledoi dari ketiga terdakwa, Ketua Majelis Ari Jiwantara memberikan kesempatan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yusuf Akbar untuk menanggapi pledoi yang telah dibacakan.

“Tetap pada tuntutan,” ujar JPU menanggapi isi pledoi. (Baca: AO Bank CTBC Dituntut 7,5 Tahun Penjara, Dua Rekannya 7  Tahun).

Perlu diketahui, Terdakwa Rudi Desmon Tampi sebelumnya telah dikenakan tuntutan JPU dengan7 tahun 6 bulan dan denda Rp 10 miliar sesuai pasal 49 Ayat (1) tentang perbankan. Selain Rudi, dua rekanya yakni, Budi Anak Robert Taning serta Ade Dian Sanura masing-masing dituntut hukuman 7 tahun dan denda Rp 10 miliar sesuai pasal 49 Ayat 1 Jo Pasal 55 Ayat 1 dan pasal 64 Ayat 1 KUHP Tentang Perbankan. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *