Polemik Pelarangan Buku Kembali Mencuat, Pemerintah Dituding Tak Miliki Kebijakan

oleh

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Polemik pelarangan buku di sekolah kembali terjadi. Kali ini, sebuah buku dengan judul “Aku Berani Tidur Sendiri” dilarang dan ditarik dari peredaran lantaran mengandung konten berbau pornografi.

Insiden pelarangan buku ini membuat kalangan pemerhati pendidikan menuding pemerintah tak memiliki kebijakan pasti. Pakar pendidikan seksualitas di usia dini dari Komunitas Pasukan Jarik, Aquino Hayunta menilai, kebijakan pemerintah dengan melarang buku tidak menjawab kebutuhan orang tua atas informasi pendidikan seksualitas di usia dini.

Menurut Aquino, hingga saat ini pemerintah belum memiliki bentuk yang jelas dalam memberikan pemahaman seksualitas terhadap anak maupun orang tua di sektor pendidikan.

“Dari dulu pemerintah tidak memperhatikan kebutuhan anak soal pendidikan seksualitas. Padahal, orang tua butuh metodologi untuk membicarakan itu dengan anak. Itu dari dulu tidak pernah ada. Masalah seperti ini selalu muncul tapi tidak ada jalan keluarnya,” ujar Aquino, Rabu (22/2/2017).

Aquino mengatakan, selama ini pembicaraan mengenai seksualitas anak selalu dihindari dan dianggap tabu. Sementara, orang tua kerap kesulitan saat menghadapi pertanyaan anak terkait seksualitas.

Akibatnya anak tidak menerima informasi yang konstruktif dan hanya menerima pelarangan tanpa alasan yang jelas. Hal tersebut, kata Aquino, justru akan mendorong anak mencari informasi dari luar yang sumbernya tidak kredibel.

Oleh sebab itu, seharusnya pemerintah mulai menyadari adanya kebutuhan orang tua dan anak terkait pendidikan seksualitas di usia dini.

“Pemerintah harus sadar bahwa pendidikan seksualitas di usia dini itu memang diperlukan,” tutur Aquino.

Selain itu, Aquino juga berpendapat bahwa seharusnya pemerintah nenyediakan informasi yang konstruktif soal pendidikan seksualitas, ketimbang mengeluarkan kebijaka pelarangan buku.

Dia pun mengusulkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membentuk sebuah tim yang bertugas mengkurasi buku-buku pendidikan seksualitas layak baca. Sehingga, orang tua memiliki panduan mengenai buku-buku apa saja yang bisa menjadi rujukan dalam mengajarkan seksualitas kepada anak.

“Daripada melarang buku, sebaiknya pemerintah menyediakan informasi soal pendidikan seksualitas. Kalau perlu bentuk tim kurasi yang mengkurasi buku-buku tentang seksualitas yang patut direkomendasikan pada orang tua,” kata Aquino.

Sebelumnya, Ketua KPAI Asrorun Ni’am mengatakan, konten buku “Aku Berani Tidur Sendiri” tidak layak bagi anak karena mengajarkan seksualitas secara tidak tepat. Ia menilai buku itu mendorong permisifitas terhadap perilaku seks menyimpang.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menilai konten yang ada dalam buku itu tidak pantas dikonsumsi anak-anak meskipun tujuannya adalah untuk edukasi seksual.

“Menurut saya, sangat vulgar. Masa pendidikan seks begitu,” kata dia.

Ia berpandangan, pendidikan seksual sudah cukup diberikan melalui mata pelajaran Agama mengenai hubungan suami-istri. Muhadjir pun menegaskan soal pemberian sanksi kepada pihak penerbit.

Agar peristiwa ini tak terulang, lanjut Muhadjir, pemerintah tengah membahas undang-undang tentang perbukuan. UU ini akan mengatur mengenai pengendalian dan pengawasan yang lebih ketat pada setiap buku yang akan diterbitkan.(kcm/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *