Polisi Tak Percaya Kivlan Zein Dalangi Aksi Pengepungan Kantor LBH

Massa mengepung Kantor LBH Jakarta saat berlangsungnya seminar Sejarah 1965, Minggu (17/9) malam.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Kepolisian Daerah Metro Jaya belum yakin jika Mayjen TNI (purn) Kivlan Zein disebut sebagai aktor intelektual dibalik aksi pengepungan Gedung LBH Jakarta, Minggu (17/9) malam. Walaupun, Kivlan mengakui bertemu dengan Koordinator Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Anti Komunis Rahmat Imran sebelum aksi pengepungan kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) ataupun seminar sejarah 1965.

Rahmat Imran merupakan koordinator aksi massa yang mengepung Kantor LBH Jakarta. Pihak kepolisian sendiri enggan memanggil Kivlan karena tidak ada aduan dari LBH.

“Belum dong (periksa Kivlan dan Rahmat) kan kalau cara kerja polisi tidak begitu, harus berdasar SOP dalam memanggil saksi atau terperiksa. Kalau orang LBH punya bukti biarkan saja dia lapor ke polisi, nanti laporannya baru kami tindak lanjuti,” ujar Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Idham Azis di Mapolda Metro Jaya, Selasa (19/9).

Sedangkan pihak LBH Jakarta sampai saat ini belum melaporkan Kivlan Zen dan Rahmat Imran ke kepolisian. Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati berpendapat, aksi massa di Kantor LBH yang diduga digerakkan oleh Kivlan dan Rahmat dinilai bukan delik aduan sehingga tak membutuhkan laporan untuk memproses kasus tersebut.

“Itu kan menurut dia (Asfinawati),” kata Idham.

Sebelumnya, Mayjen TNI (Purna) Kivlan Zein bertemu dengan Rahmat Imran pada JUmat (15/9) malam atau sebelum aksi pengepungan kantor YLBHI yang menggelar seminar sejarah 1965. Namun, Kivlan menolak jika disebut sebagai dalang dalam aksi pengepungan tersebut.

“Imran saya tahu, kenal. Dia yang mengundang saya. Mereka ini atas nama aliansi mahasiswa antikomunis,” kata Kivlan di kantor Badan Reserse Kriminal, Mabes Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (19/9).

Kantor YLBHI sekaligus LBH Jakarta sejak Ahad malam hingga Senin dinihari dikepung oleh ratusan orang yang berasal dari beberapa organisasi massa. Pengepungan ini dilakukan dengan dalih ingin membubarkan acara seni AsikAsikAksi, yang sedang digelar di dalam gedung.

Massa mencium gelagat pergerakan komunisma dan Partai Komunis Indonesia dalam acara itu. (Baca: Dipicu Isu Diskusi Komunis, Massa Kepung Kantor LBH).

Kivlan mengatakan pertemuannya dengan Rahmat diadakan pada Jumat malam, 15 September 2017 atau sehari sebelum Seminar Sejarah 1965 yang rencananya digelar di YLBHI. Pertemuan tersebut dilakukan di sebuah gedung di Jalan Menteng Nomor 58, Jakarta.

“Bukan memimpin rapat, tapi undangan untuk berbicara,” ujarnya.

Ia meradang ketika aktivis YLBHI Muhammad Isnur menyebutnya sebagai provokator atau dalang di balik aksi massa itu. “Jadi dengan demikian, LBH sudah sejak lama kita tengarai berusaha mengungkit-ungkit luka lama,” ujarnya.

Apalagi, Kivlan mengklaim justru dirinya ikut menasihati aliansi pemuda tersebut agar membatalkan niatnya atau menahan diri agar tidak anarkhis ketika melakukan aksi massa.

“Saya datang untuk memberikan nasihat. Nasihat saya jangan lakukan kerusuhan. Jangan masuk halaman karena akan delik hukum,” ujarnya.

Sementara itu, Rahmat Imran mengaku telah mengajak massa dengan menyebar undangan agar mendatangi kantor LBH Jakarta yang ia sinyalir menggelar acara pro PKI pada Minggu (17/9) malam hingga Senin (18/9) dini hari lalu. (tp/mun)