Politisi Demokrat Akui Terima Suap Lewat Staf Pribadi

oleh
Anggota Komisi III DPR dari Partai Demokrat, I Putu Sudiartana bersaksi di sidang terdakwa kasus suap penambahan DAK APBN-P 2016 Yogan Askan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (12/10).
Anggota Komisi III DPR dari Partai Demokrat, I Putu Sudiartana bersaksi di sidang terdakwa kasus suap penambahan DAK APBN-P 2016 Yogan Askan  di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (12/10).
Anggota Komisi III DPR dari Partai Demokrat, I Putu Sudiartana bersaksi di sidang terdakwa kasus suap penambahan DAK APBN-P 2016 Yogan Askan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (12/10).

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Politisi Partai Demokrat, Putu Sudiartana akhirnya mengakui menerima duit suap dari pengusaha Yogan Askan. Namun Putu berdalih tidak pernah tahu niat Yogan memberikan duit melalui melalui staf pribadinya, Noviyanti itu.

Belakangan terungkap bahwa Yogan memberikan uang itu untuk memuluskan penambahan dana alokasi khusus (DAK) dari APBN-P 2016.  Diakui Putu, duit itu dikirim Yogan tanggal 25 Juni 2016.

“Bu Novi bilang saya kasih rekening,” kata Putu saat bersaksi untuk terdakwa Yogan Askan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (12/10).

Putu mengira bahwa uang itu adalah hasil penjualan tanah. Ia mengaku sudah meminta Novi agar mengembalikan duit itu ke Yogan.

“Saya tidak tahu uang Pak Yogan. Setahu saya uang istri saya yang jual tanah di Singaraja, yang beli Bu Ratna. Pemikiran saya gitu,” kata  anggota Komisi III DPR RI ini.

Sebelum mengetahui uang itu dari Yogan, Putu sempat meminta Noviyanti menggunakan uang itu untuk keperluan pribadinya. Salah satunya yaitu digunakan untuk pembayaran utang sebesar Rp 200 juta kepada orang bernama Jon.

Selain itu, Putu yang juga menjadi tersangka dalam kasus ini juga memerintahkan Noviyanti untuk mengirim uang itu ke rekening beberapa kerabatnya. Namun saat kemudian mengetahui uang itu dari Yogan, Putu meminta Noviyanti mengembalikan uang itu tetapi belum sempat dilakukan karena dia ditangkap KPK.

“Saya bilang sama Novi, cepat kembalikan uang ini, karena waktunya hanya satu bulan. Saya katakan, Novi, kamu akan berhadapan dengan hukum, cepat kembalikan,” kata Putu.

Putu didakwa menerima uang dari Yogan Askan sebesar Rp 500 juta sebagai imbalan terkait pengurusan dana alokasi khusus (DAK) bagi Provinsi Sumatera Barat, yang diharapkan berasal dari APBN-P 2016. Namun dalam pertemuan sebelumnya, Putu disebut meminta imbalan Rp 1 miliar. (dt/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.