Protes Pembangunan Basement, Seniman Bawa Peti Mati ke Balai Pemuda

Aksi teatrikal yang dipentaskan di lokasi pembangunan basement di area Balai Pemuda Surabaya. Dalam aksinya mereka membopong peti mati sebagai

Aksi teatrikal yang dipentaskan di lokasi pembangunan basement di area Balai Pemuda Surabaya. Dalam aksinya mereka membopong peti mati sebagai bentuk keprihatinan.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menggelar aksi teatrikal membopong peti mati di lokasi pembangunan lahan parkir basement atau bawah tanah di area Balai Pemuda dan Surabaya.

Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Chrisman Hadi menuturkan aksi protes dengan membopong peti mati dari Balai Pemuda menuju Balai Kota Surabaya dilakukan sebagai bentuk keprihatinan.

“Peti mati itu sempat kami taruh di Balai Kota. Ini bentuk keprihatinan kami dan kawan-kawan seniman,” jelas Chrisman, Senin (15/8/2016).

Pihaknya mengaku prihatin atas ulah Pemkot Surabaya yang terkesan sembarangan dalam pembongkaran dua gedung cagar budaya tipe A yang yang berada di area Balai Pemuda.

Menurut Chrisman, proyek pembangunan lahan parkir basement atau bawah tanah di area Balai pemuda Surabaya murni provit oriented.

“Sesuai namannya harusnya dijadikan pusat kegiatan Pemuda dan Kebudayaan. Bukan malah dijadikan lahan parkir,” kritiknya.

Chrisman sebelumnya menduga maksud Pemkot Surabaya memindahkan Pengurus DKS, Bengkel Muda,Yayasan 66,KNPI ke eks gedung Siola pada tahun lalu.

Waktu itu Pemkot berdalih ada renovasi Balai Pemuda. Namun, kecurigaan DKS pun terbukti, maksud Pemkot yakni akan membongkar bangunan bersejarah.

“Hanya KNPI yg bersedia pindah sedang lainnya menolak. Karena itu kami dilaporkan oleh Disparta Surabaya Ke Kejaksaan Negri Surabaya sebagai Pengacara negara,” ungkapnya.

Chrisman masih ingat dengan janji manis yang disampaikan pemerintah kota ketika Balai Budaya hendak di bangun oleh seniman. Mereka diberi janji bisa ikut memanfaatkan ada tambahan ruang untuk Galeri buat seniman mengekspresikan karyanya.

Namun setelah bangunan cagar budaya tipe A terebut, ruang koridor bawah yang dijanjikan untuk galeri justru sekarang di pakai untuk perpustakaan kota.

Selama ini gedung balai budaya hanya padat diisi acara kesenian Event Organaizer (EO) afiliasi Dinas Kebudayaan (Disbudpar). DKS hanya bisa memakai sekali sekitar setahun lalu ketika ada tamu Riau Rythem Chambers.

“Itu pun setelah kita mendesak dengan keras bahkan mengancam karena tidak ingin menderita malu pada kawan Riau Ryhtem Chambers yang sudah memiliki reputasi Internasional,” tegasnya.

Beberapa bulan lalu DKS mau membuat ruang rapat semi permanen di sebelah kantor DKS yang mirip kandang Ayam. Namun oleh Disbudpar dilarang dengan alasan bangunan semi permanen akan merubah bentuk cagar budaya.

Sebelumnya, Anggota Komisi C (pembangunan) DPRD Surabaya, Vinsensius juga menyoroti pembangunan basement di area Balai Pemuda.

Politisi dari Partai Nasdem ini menyarankan Pemkot Surabaya melibatkan pakar arkeologi dan teknik sipil. Langkah itu untuk memastikan tidak ada kerusakan pada dua gedung cagar budaya yang berada di lokasi proyek. (bmb/gbi)