Protes Perubahan Nama Jalan, Dua Politisi Nasdem Lakukan Aksi Walk Out Saat Rapat Paripurna

oleh
Politisi dari Partai Nasdem Vincensius Awey dan Fatchul Muid saat bersalaman dengan pimpinan rapat sebelumnya melakukan aksi walk out dari ruang rapat paripurna.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Rapat paripurna dengan agenda perubahan nama sebagian Jalan Gunungsari yang diganti dengan Jalan Siliwangi serta Jalan Dinoyo yang dirubah menjadi Jalan Sunda diwarnai aksi walk out dua anggota DPRD Kota Surabaya dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Sebelum mengesahkan pengubahan nama jalan, Masduki yang menjadi pimpinan rapat paripurna menerima pengunduran diri Fatchul Muid sebagai ketua pansus. Muid mengaku mundur lantaran tidak selaras dengan usulan pengubahan nama jalan bersejarah tersebut.

”Banyak masyarakat yang menolak, dan saya tetap bersama rakyat, makanya saya pilih mundur jadi ketua pansus,” kata Muid, Sabtu (11/8/2018).

Selanjutnya, sidang paripurna mendapat protes keras dari Anggota Komisi C, Vinsensius Awey. Awey menyatakan, apa yang diputuskan Pansus mengaburkan fakta-fakta sejarah perjuangan masyarakat Surabaya.

Dia menolak keras rencana pengubahan sebagian nama jalan tersebut lantaran banyak sejarah yang akan hilang berbarengan dengan pergantian nama. Menurutnya, pemaksaan perubahan dua nama jalan tersebut merupakan bentuk penjajahan model baru.

”Pemerintah harus hadir bukan dalam bentuk menjajah kepentingan masyarakat, tapi harus melindungi,” tegasnya.

Vinsensius menegaskan, dia sebenarnya sepakat dengan usulan Gubernur Jatim mengenai rekonsiliasi budaya. Namun tidak harus membumihanguskan sejarah yang sudah ada.

“Saya sepakat ada rekonsiliasi, saya sepakat ada penamaan Jalan Sunda dan Siliwangi, tapi tiadk harus menghilangkan yang sudah ada. Apalagi kedua jalan tersebut (Dinoyo dan Gunungsari) merupakan jalan bersejarah masyarakat Surabaya dalam melawan penjajah,” katanya.

Lantaran tidak sepakat, Awey kemudian memutuskan walk out dari sidang paripurna diikuti Fatchul Muid. Keduanya menyatakan tidak ikut bertanggungjawab apabila dikemudian terjadi permasalahan hukum dan gejolak masyarakat.

Mendapat protes sedemikian deras, Agustian Poliana dari Fraksi PDI-P yang belakangan diketahui mengambilalih posisi Fatchul Muid sebagai ketua pansus menyatakan, tidak ada yang keberatan dan tidak ada tekanan terhadap ketua pansus sebelumnya.

Agustin memastikan, pihaknya sudah meminimalisir masyarakat terdampak akibat pengubahan nama jalan tersebut. Di Jalan Dinoyo misalnya, semuanya sudah sepakat lantaran hanya 30 KK yang terdampak.

Sementara di Gunungsari dia memastikan tidak ada satupun masyarakat terdampak. Artinya, kata dia, tidak ada masyarakat yang terdampak akibat pengubahan nama jalan tersebut.

Di Jalan Gunungsari hanya memindah jalan. Dimana mulai dari traffic light pertigaan Rolak Gunungsari sampi traffic light pintu tol Gunungsari diganti menjadi Jalan Siliwangi.

“Sementara Jalan Gunungsari kita geser ke sisi kiri tepatnya di depan Hotel Singgasana yang langsung nyambung dengan Jalan Golf depan Yani Golf,” katanya.

Nantinya, Jalan Gunungsari dari Jalan Golf akan ditembus ke depan Hotel Singgasana yang akan secepatnya dilakukan perbaikan lantaran jalan tersebut sudah lama ditutup dan akan dibuka kembali dan akan bertemu di Jalan Gunungsari setelah traffic light Rolak Gunungsari.

Politisi PKS, Reni Astuti menambahkan bahwa tidak ada masyarakat terdampak dari pergeseran nama jalan tersebut. Sebab, baik sisi kanan maupun kiri Jalan Siliwangi diapit sungai yakni Sungai Rolak (Brantas) dan Sungai Gunungsari.

Dia memastikan hal tersebut setelah pihaknya melakukan sidang bersama Anggota Pansus dan DCKTR, dan Bagian Hukum Kota Surabaya pada Jumat (10/8) sore.

Usai perdebatan yang cukup panjang, Pimpinan Sidang Masduki Toha didampingi Wakil Ketua DPRD Surabaya Darmawan akhirnya menyetujui usulan pengubahan sebagian nama jalan. Hadir dalam sidang paripurna Wakil Walikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana, para veteran perang TRIP, Anggota Pansus, dan pihak eksekutif.

Untuk diketahui, rencana perubahan dua nama Jalan di Surabaya memang dari awal ditentang oleh banyak pihak. Salah satunya disampaikan oleh Pakar Tata Kota Prof Johan Silas.

Bahkan Johan Silas menyebut, mengubah nama jalan Gunungsari dan Dinoyo sama saja mencederai perjuangan para pahlawan. ”Sejarah tercederai,” katanya sewaktu mengikuti dengar pendapat dengan Pansus Perubahan Nama Jalan beberapa waktu lalu.

Dia bahkan mengusulkan akan lebih pas kalau nama jalan tersebut diletakkan di Kabupaten Mojokerto yang memiliki keterkaitan langsung dengan perisitiwa tersebut.

Sementara Tentara Repbulik Indonesia Pelajar (TRIP) yang datang menemui Ketua Pansus Fathul Muid mengaku sangat terluka dengan rencana pengubahan nama jalan tersebut. Muharjo pentolan TRIP yang datang dengan para veteran perang dari sejumlah wilayah di Jatim berharap rencana tersebut dibatalkan.

Sebab, katanya, TRIP menjadi saksi bagaimana kedua jalan tersebut merupakan lokasi pertempuran sengit sebelum akhirnya para pejuang bergeser ke Mojokerto, Sepanjang dan wilayah-wilayah sekitar.

”Kami yang mengalami perang itu, jadi jangan diubah,” ujarnya. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *