Puan Maharani Ramaikan Bursa Cawapres Jokowi

oleh
Presiden Joko Widodo bersama Menko Pembangunan SDM yang diajukan sebagai Bacawapres PDIP, Puan Maharani.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) rupanya tak mau ketinggalan menaikkan kadernya dalam perebutan kursi Calon Wakil Presiden untuk Joko Widodo. PDIP menyodorkan Puan Maharani, putri Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dalam bursa cawapres.

Masuknya Puan membuat bursa cawapres pendamping Jokowi semakin ketat. Sebelumnya kursi cawapres pendamping incumbent ini sudah dipanaskan oleh Ketua Umum PKB Muahimn Iskandar yang terlihat paling ngebet.

Selain Cak Imin, sapaan karib Muhaimin, ada juga Ketua Umum PPP Rommahurmuzy dan putra mahkota Partai Demokrat, Agus Harimurti Yuhdoyono (AHY).

“Mbak Puan merupakan salah satu kader potensial. Tentu sebagai kader PDIP menjadi salah satu skala prioritas,” kata Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDIP¬†Sukur Nababan di Harris Suite FX Sudirman, Jakarta, Kamis (19/4).

Hanya, Sukur mengatakan bursa nama cawapres Jokowi hingga saat ini belum dibicarakan lebih lanjut. Menurut Sukur, pihaknya saat ini masih berfokus bekerja untuk Pilkada 2018 di 171 daerah.

Selain itu, PDIP juga tengah menyiapkan proses seleksi calon legislatif dalam Pileg 2019, baik dari tingkat DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, maupun DPR RI. Menurut Sukur, pembahasan mengenai cawapres Jokowi baru akan dilakukan jika segala proses dan konsolidasi internal telah selesai.

“Belum ada yang kami godok siapa nanti yang akan kami usung jadi cawapres Jokowi,” kata Sukur.

Apakah empat nama tersebut tadi yang sudah ada di kantong Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri?

Sebelumnya Megawati dikabarkan telah mengantongi beberapa nama paling potensial menjadi cawapres Jokowi yang tersaring dari sejumlah kandidat. Daftar nama cawapres ini dikantongi Megawati berdasarkan pengkajian dan penyaringan ketat oleh tim internal PDIP. (Baca: Megawati Kantongi Calon Duet Jokowi).

Selain empat nama tadi, masih ada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto  yang diusung Dewan Pakar partai beringin.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai sebaiknya Jokowi tidak mengambil cawapres dari tokoh partai politik. Sehingga Jokowi dapat menghindari risiko pecahnya koalisi karena perebutan posisi cawapres.

Menurut Qodari, situasi Jokowi saat ini mirip ketika mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan maju kembali dalam Pilpres 2009. Ketika itu, lanjut Qodari, SBY akhirnya memutuskan memilih mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono sebagai cawapresnya.

“Kalau dipilih salah satu (tokoh partai), yang lain marah dengan risiko membubarkan koalisi. Maka diambil non-partai sama sekali di mana dalam arti semua tak dapat sekalian,” kata Qodari. (kat/gin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *