Putri Budi Mulya Desak KPK Seret Aktor Penting Skandal Century

oleh
Nadia Mulya mendatangi Gedung KPK untuk mendorong pengusutan tuntas skandal bailout Bank Century yang telah menjebloskan ayahynya, Budi Mulya ke penjara.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Putri terpidana kasus bailout Bank Century Budi Mulya, Nadia Mulya, bersama pemohon praperadilan kasus skandal Bank Century, Boyamin Saiman mendatangi Gedung KPK, Kamis (12/4). Nadia mendorong Komsisi Pemberantasan Korupsi mengusut tuntas skandal korupsi Rp 6,8 triliun dan menjerat semua aktor yang terlibat.

“Usut sampai tuntas karena kasus Century itu bukan seputar kebijakan saja, yang bikin masyarakat geram kan seperti kata Rizal Ramli kan itu (istilahnya, red) ember bocor. Bocornya ke mana, yang masyarakat ingin tahu kan yang sebenarnya itu,” ujar Nadia Mulya kepada wartawan di gedung KPK,  Jakarta Selatan, Kamis (12/4). (Baca juga: Pakar Hukum Anggap Penetapan Boediono Tersangka Tak Bisa Diputus Lewat Praperadilan).

Menurut Nadia, skandal Bank Century telah merusak keluarga setelah ayahnya ditetapkan sebagai tersangka dan kini jadi narapidana. Ia menegaskan, ayahnya bukan pengambil kebijakan terkait skandal pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dan penyertaan modal sementara (PMS).

“Dia (Budi Mulya) pelaksana saja. Dia melaksanakan kebijakan yang sudah diambil dewan gubernur,” ujar runner-up Puteri Indonesia 2004.

Ia menilai, seharusnya bukan hanya ayahnya yang dijerat dalam kasus ini. Sebab, persetujuan bailout berjalan sistemik melibatkan banyak pihak dari semua pejabat BI dan Komite Kebijakan Sistem Keuangan (KSSK).

“Kalau mau bilang kasus Century itu tidak bisa hanya Budi Mulya seorang. Anda harus bisa lihat, Bapak saya tidak ada terlibat sama sekali dalam proses apa pun untuk bailout, tapi kenapa semua hukuman seperti diberikan kepada dia seorang. Menurut saya itu sangat tidak adil,” tandasnya Nadia.

Dalam perkara Century, Budi Mulya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dihukum 10 tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam proses pemberian FPJP dan penentuan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Majelis hakim menilai perbuatan Budi Mulya dan sejumlah orang lainnya telah merugikan keuangan negara total Rp 8,012 triliun. Kerugian keuangan negara ini terdiri dari pemberian dana FPJP Rp 689,894 miliar dan penyertaan modal sementara (PMS) dua tahap, yakni Rp 6,8 triliun dan Rp 1,250 triliun. Budi Mulya diperberat hukumannya menjadi 15 tahun penjara oleh Mahkamah Agung. (dt/nad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *