Putri Djoko Susilo Gugat Hibah Rumah Sitaan KPK ke Pemkot Solo

Hibah Rumah Megah: Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wali Kota Solo, FX hadi Ruyatmo beserta jajarannya melakukan serah terima hibah rumah di Jalan Perintis Kemerdekaan nomor 70, Kelurahan Sondakan, Laweyan yang disita dari terpidana kasus korupsi pengadaan simulator SIM, Irjen Pol Djoko Susilo.

 

GLOBALINDO.CO, SOLO – Anak perempuan mantan Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian RI, Inspektur Jenderal  Djoko Susilo, tak terima dengan langkah Komisi Pemberantasan Korupsi menghibahkan rumah sitaan di Laweyan kepada Pemerintah Kota Surakarta, Selasa (17/10). Femialya, nama putri Djoko Susilo, langsung melayangkan gugatan terhadap ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.

Menurut poppy,  rumah seharga Rp 49 miliar itu adalah miliknya. Pengacara Poppy, Hawit Guritno menegaskan, rumah itu dibeli kliennya sebelum kasus korupsi yang dilakukan Djoko Susilo terjadi.

“Namun KPK tetap menyita rumah tersebut,” kata Femi melalui pengacaranya, pengacara keluarga Djoko Susilo, Hawit Guritno, Selasa (17/10).

Sebenarnya, Femialya pernah melayangkan gugatan perdata terkait masalah ini ke Pengadilan Negeri Surakarta, tahun lalu. Namun Poppy kalah di pengadilan tingkat pertama itu.

“Kami telah menggugat proses penyitaan itu ke pengadilan. Saat ini sedang dalam tahapan banding,” kata Hawit.

Saat ini pihaknya masih menunggu putusan dari Pengadilan Tinggi Jawa Tengah terkait dengan gugatan terhadap Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) serta KPK. Namun di tengah jalan, Kementerian Keuangan, melalui surat nomor S-234/MK.6/2017, menghibahkan tanah serta bangunan itu kepada Pemerintah Kota Surakarta.

“Kami menggugat surat itu melalui PTUN lantaran rumah tersebut baru dalam sengketa,” katanya.

Hawit mengatakan sidang perdana untuk gugatan itu baru akan digelar pada Kamis besok di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta. “Kami heran serah-terima dilakukan menjelang sidang perdana,” katanya. Apalagi saat ini beberapa perabot yang tidak masuk daftar sitaan masih berada di dalam rumah tersebut.

Koodinator Pelaksana Tugas  Unit Pelacakan Aset, Pengelolaan Barang Bukti, dan Eksekusi KPK Irine Putri mengatakan rumah dan tanah senilai Rp 49 miliar itu sudah sah menjadi milik negara. “Sudah melalui putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap,” tuturnya.

Pengadilan, kata Irine, memutuskan merampas rumah itu lantaran tindak pidana pencucian uang telah terbukti di pengadilan. Dia mengakui rumah tersebut memang atas nama Poppy Femialya, anak Djoko Susilo.

“Namun yang bersangkutan pada saat itu tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk membeli rumah itu,” katanya. (tp/nad)