Rekening Pencairan Dana BOS Diblokir, Sejumlah Kepala Sekolah Lapor Dewan

oleh
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Laila Mufidah (kanan) saat mendampingi Ketua DPC PKB, Musyafak Rouf. 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sejumlah kepala sekolah di Surabaya mengeluhkan pemblokiran rekening dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) oleh pemerintah kota. Keluhan tersebut, disampaikan kepada Anggota Komisi D (pendidikan dan kesra) DPRD Surabaya, Laila Mufidah.

Laila Mufidah menyebutkan, pemblokiran rekening mulai dilakukan Pemkot Surabaya sekitar satu pekan yang lalu. Pemblokiran baru diketahui ketika para kepala sekolah hendak mengambil uang di Bank Jatim.

“Ini laporan dari salah satu Kepsek di Mulyorejo dan Kepsek di daerah Tenggilis Mejoyo,” ujar Laila Mufidah, Kamis (11/10/2018)

Dia mengatakan bahwa jumlah rekening yang diblokir ternyata mencapai ratusan. Keterangan ini didapat saat dirinya berusaha minta penjelasan langsung dari salah satu staf Dispendik Surabaya bernama Agnes.

Anehnya, saat dispendik soal pemblokiran berdalih jika ijin operasioanal sudah mati. Padahal, keterangan dari beberapa kepala sekolah bahwa izin yang mereka miliki masih hidup.

“Anehnya, ternyata Bu Agnes ini mengaku bisa membuka blokirannya, asal PPN dan PPH nya diselesaikan. Setelah saya desak terus, belakangan beralasan lagi kalau dana BOS nya memang telat,” herannya.

Kejadian yang menimpa Sekolah ini mengagetkan sekaligus menjadi keprihatian seluruh anggota DPRD di Komisinya. Mengingat BOS merupakan bantuan dari pusat yang dikirim melalui Dispendik Jawa Timur.

“Kalau dianggap salah, teman-teman mengakui salah. Tapi kalau diblokir kan sekolah tidak bisa bergerak,” tandasnya.

Oleh karena itu, Ketua FPKB ini berharap Pemkot Surabaya bisa segera memberikan solusi secepatnya karena menyangkut penyelenggaraan proses belajar mengajar di setiap Sekolah, yang tentu berimbas kepada nasib dan masa depan siswa.

“Daerah lain di jatim tidak ada yang melakukan seperti itu. Sudah tidak banyak membantu sekolah swasta, kok malah tambah ditahan, Bopda juga ngadat,” pungkasnya. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *