Risma Minta Masyarakat Cerdas dalam Mengelola Energi

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini saat menandatangani MoU dengan PJB.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Walikota Surabaya, Tri Rismaharini meminta masyarakat lebih cerdas dalam mengelola energi yang ada. Permintaan itu disampaikan saat penandatanganan nota kesepakatan (Mou) dengan perusahaan Pembangkit Jawa Bali (PJB) terkait pengembangan energi terbaru dan terbarukan serta teknologi ramah lingkungan di Surabaya, Senin (23/10/2017).

Dikatakan Risma, ke depan jumlah penduduk termasuk kebutuhan lahan dan pangan serta kebutuhan yang lain akan semakin banyak. Oleh sebab itu, dirinya mengucapkan terima kasih atas terobosan yang dilakukan PJB kepada Surabaya.

“Ini langkah preventif, lebih baik mengantispasi sekarang dari pada nanti ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Risma menjelaskan, pengelolaan sampah di TPA Benowo yang sejak lama dikonsep dan bakal direalisasikan wujudnya akhir tahun 2018 juga untuk menambah pasokan aliran listrik bagi PLN dan warga Purabaya.

“Insyallah akhir tahun 2018 TPA yang ada di Benowo mampu menghasilkan 11-12 megawatt. Saat ini komponen barang impor yang sudah datang sekitar 30 persen, sedangkan konstruksi sudah hampir selesai,” ungkap perempuan kelahiran kediri itu.

Untun mendukung program PJB, Risma mengaku akan menyediakan lahan bagi PJB agar mampu menghasilkan energi listrik yang ramah lingkungan. Menurutnya, di surabaya ada banyak lahan khususnya di wilayah barat.

Namun, kata dia, pemilihan lahan terlebih dahulu melewati hasil survei dari tim ITS dan PJB, apakah memenuhi standar atau tidak.

“Ketimbang mereka kerja di atas gunung atau hutan, lebih baik kita survei dulu untuk memilih lokasi mana yang sesuai agar bisa dimaksimalkan untuk solar panel. Di samping jangkauanya yang mudah, dari segi biaya juga lebih murah,” urainya.

Sementara itu Direktur utama PJB Iwan Agung Firsantara menambahkan, bentuk kerjasama antara PJB dan Pemkot Surabaya adalah membuat solar panel di beberapa daerah-daerah yang tidak digunakan.

“Jadi dalam kerjasama ini, pemkot menyediakan lahan, lalu PJB menyediakan solar panel yang mana di dalamnya terdapat pendanaan sedangkan ITS menyediakan engineering-nya,” jelas Iwan.

Ditanya soal jumlah megawatt yang mampu dihasilkan dalam satu hektare, Iwan mengatakan, satu hektare lahan mampu menghasilkan 1 megawatt dengan mengeluarkan dana sekitar 1,2 juta dolar.

“Nanti kita lihat dan kapasitas akan disesuaikan,” ucapnya.

Selain solar panel, pemkot dan PJB berencana untuk memanfaatkan potensi-potensi lain yang mungkin bisa dijadikan sebagai energi listrik misalnya di sungai-sungai yang ada di Surabaya.

“Contohnya kali Jagir, itu aliran airnya masih bisa digunakan dengan melihat sisi potensi dan engineeringnya,” pungkas pria yang pernah menjabat sebagai General Manger PLN unit Pembangkit Jawa- Bali itu. (bmb/gbi)