Rizal Ramli Kembali Tegaskan Proyek Listrik 35.000 MW Hanya Jual Mimpi

rizal ramliGLOBALINDO.CO, JAKARTA – Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli kembali menegaskan bahwa proyek listrik 35.000 Mw hanya jual mimpi. Rizal Ramli sebelumnya sudah pernah meminta proyek 35.000 MW ini dievaluasi saat baru diangkat menjadi menteri pada Agustus 2015 lalu.

Sembilan bulan lalu Rizal menyebut proyek 35.000 MW kurang realistis, kritik Rizal sempat membuat ramai di kabinet. Menurutnya, ada yang bersikap ‘Asal Bos Senang’ alias ABS, menjual mimpi kepada Presiden.

“Begitu saya diangkat jadi Menko, kami memang minta proyek 35.000 MW dievaluasi, waktu itu langsung heboh. Kami pelajari sebelumnya bahwa target ini kurang realistis, paling banter 17.000 MW. Tapi ada teman kita yang ‘asal bos senang’, memberi target berlebihan, jual mimpi,” kata Rizal Ramli saat memberi sambutan di Gedung Badan Pemeriksa Keuangtan (BPK), Jakarta, Selasa (31/5/2016).

Seminar BPK ini membahas masalah kelistrikan nasional dengan tema “Pembangunan Ketenagalistrikan di Indonesia, Masalah dan Solusi serta Implementasi Program Listrik 35.000 MW”.

Sebagai pembanding, Rizal Ramli menyebut, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saja selama 10 tahun dari 2005-2015 hanya berhasil membangun pembangkit hingga 10.200 MW. Target 35.000 MW dengan cara kerja seperti sekarang hanya mimpi.

Kata Rizal, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebenarnya sudah tahu hal ini.

“Kalau 18.000 MW bisa dicapai dalam 5 tahun itu sudah luar biasa. Sepuluh tahun pemerintahan SBY hanya bisa membangun 10.200 MW. Pak Presiden (Jokowi) tadinya juga percaya 35.000 MW ini masuk akal, tapi setelah diskusi sama kami, ada info kiri kanan, beliau paham banyak kendala untuk mencapai itu,” paparnya.

Orang-orang yang bereaksi keras saat Rizal meminta proyek 35.000 MW dievaluasi menjadi 17.000-18.000 MW pada Agustus 2015 lalu, sambungnya, adalah orang-orang yang memiliki kepentingan di proyek 35.000 MW.

“Tentu sebelum ngomong itu, kami sudah studi dulu. Saya nggak pernah ngomong sembarangan. Orang-orang yang bereaksi sangat keras waktu itu adalah orang-orang yang sangat berkepentingan,” tandas Rizal.

Dia menambahkan, proyek 35.000 MW bisa merugikan PLN kalau terus dipaksakan. Sebab, kebutuhan listrik 5 tahun mendatang tak sampai 35.000 MW. Tentu akan terjadi kelebihan pasokan listrik. Independent Power Producer (IPP) yang menjual listrik ke PLN tentu tak mau rugi, PLN tetap harus membayar meski listrik banyak tak terpakai. Berdasarkan hitungan Rizal, PLN bisa rugi US$ 10,7 miliar per tahun.

“Andai kita bisa selesaikan, akan terjadi excess demand sehingga PLN harus bayar listrik yang sudah dibangun, mau dipakai nggak dipakai. Hitungan kami, PLN harus bayar US$ 10,7 miliar per tahun tanpa pakai listriknya (dari IPP). Ini membebani PLN, itu bisa jadi masalah besar nanti,” ucapnya.

Bila PLN sampai rugi sebesar itu, bukan hanya PLN saja yang bangkrut, negara juga bisa goyang. “Kami juga nggak mau PLN bangkrut lagi. Dulu 15 tahun lalu PLN bangkrut saya yang selamatkan. Bond (obligasi) PLN besar sekali, nanti kena ke perusahaan-perusahaan lain kalau bangkrut. Keuangan PLN harus sehat,” Rizal menerangkan.

“Presiden Jokowi sudah paham ini. Saya pasang badan buat Pak Jokowi supaya PLN nggak bangkrut. Cuma masih ada pejabat ABS yang bilang ini bisa, itu bisa. Jangan menawarkan mimpi yang solusinya juga nggak ada, terus bisanya cuma nyalahin PLN,” tutupnya.(dtc/ziz)