Rudal Patriot Memble, Warga Amerika Ketar-ketir Ancaman Korut

Rudal Patriot kebanggaan Amerika Serikat yang ternyata memble.

GLOBALINDO.CO, NEW YORK – Di tengah ancaman perang nuklir dengan Korea Utara (Korut), penduduk Amerika Serikat dicekam ketakutan seiring munculnya bukti memblenya sistem pertahanan rudal Patriot yang selama ini dibanggakan.

Bukti itu datang dari Arab Saudi yang menggunakan rudal Patriot dalam menghadapi serangan dari Yaman. Rudal Patriot diduga gagal mencegat secara sempurna serangan rudal dari pemberontak Houthi di wilayah Yaman beberapa waktu lalu. Rudal dari Houthi itu ternyata tidak sepenuhnya hancur.

Otoritas Saudi menyebut, pihaknya berhasil mencegat dan menghancurkan rudal yang ditembakkan dari wilayah Yaman pada 4 November lalu. Namun sebuah analisis yang dipublikasikan surat kabar New York Times (NYT), seperti dilansir AFP, Selasa (5/12/2017), menunjukkan jika Saudi gagal mencegat rudal Houthi itu dengan rudal pencegat dari sistem pertahanan Patriot buatan Amerika.

(Baca Juga: Korut Punya Bom Nuklir Pemusnah Seluruh Warga AS, Ini Reaksi Trump)

Analisis ini dilakukan tim peneliti dan seorang pakar senjata yang memeriksa foto dan video bukti-bukti serangan rudal dari wilayah Yaman.

Dalam keterangannya, otoritas Saudi menyebut sesaat setelah rudal Houthi masuk ke wilayah Riyadh, dengan segera rudal pencegat Patriot ditembakkan ke arahnya. Sesaat setelah itu, bagian besar dari rudal jatuh ke tanah dan otoritas Saudi menyebutnya sebagai bukti kesuksesan pencegatan rudal Houthi.

Padahal pada saat bersamaan, sebuah ledakan besar terjadi di dekat bandara Riyadh, yang diketahui merupakan target serangan rudal Houthi itu.

NYT dan para peneliti yang kebanyakan berasal dari Institut Kajian Internasional Middlebury, Monterey, California, Amerika Serikat (AS) ini menyebut potongan rudal yang dikumpulkan otoritas Saudi semuanya merupakan bagian belakang rudal, yang diyakini berasal dari jenis Scud.

Hal ini lantas memicu pertanyaan soal apakah sistem pertahanan Patriot tidak bekerja. Rudal pencegat dari sistem canggih buatan AS ini harusnya menghancurkan total setiap rudal yang dihantamnya.

Menurut NYT, rudal jenis Scud ‘hampir pasti’ dirancang untuk memisahkan diri menjadi dua bagian saat mendekati akhir jangkauannya, atau setelah mengudara sejauh 965 kilometer dari Yaman. Pemisahan itu membuat upaya penghancuran hulu ledak yang ada di ujung rudal sedikit sulit, hingga akhirnya rudal mencapai target.

NYT menyebut, bukti-bukti yang ada menunjukkan dua kemungkinan, yakni rudal pencegat Patriot tidak mengenai rudal Houthi itu, atau rudal pencegat hanya mengenai bagian belakang rudal Houthi setelah hulu ledak memisahkan diri.

“Pemerintah berbohong soal efektivitas sistem ini. Atau mereka mendapatkan informasi yang salah. Dan hal itu seharusnya membuat kita sangat khawatir,” ujar analis Jeffrey Lewis yang memimpin analisis ini. Pentagon atau Departemen Pertahanan AS menolak memberi komentar dan meminta agar pertanyaan ini diarahkan kepada otoritas Saudi.

Di sisi lain, temuan analisis ini menjadi penting karena AS kini berada di tengah ancaman rudal dan nuklir Korea Utara (Korut). Beberapa waktu lalu, Korut mengklaim berhasil meluncurkan rudal balistik antarbenua jenis baru, Hwasong-15, yang diklaim mampu menjangkau seluruh wilayah AS. Menanggapi hal itu, Pentagon menyatakan keyakinannya bahwa sistem pertahanan AS mampu menangkal serangan rudal Korut.(dtc/ziz)