Rupiah Tumbang di Tengah Perang Dagang AS-China

oleh

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Nilai tukar rupiah tumbang di tengah kecamuk perang dagang yang dipelopori Amerika Serikat (AS) dan China. Pada perdagangan Jumat (29/6/2018) siang, nilai tukar rupiah berada pada level Rp 14.360. Level ini tercatat sejak pukul 11.40 WIB atau 0.40 AM Eastern Daylight Time (EDT).

Berdasarkan rupiah foreign exchange spot rate yang tertera pada laman cnbc.com, nampak rupiah melemah 25 poin atau minus 0,1738 persen. Rupiah diperdagangkan hari ini di kisaran Rp 14.355 hingga Rp 14.410 per dollar AS. Penguatan dollar AS menjadi salah satu efek terhadap pelemahan rupiah beberapa hari belakangan.

Menanggapi kondisi ini, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, pergolakan nilai tukar terjadi akibat faktor eksternal. Seperti kenaikan bunga The Fed hingga perang dagang AS-China.

“Ini yang susah ditebak adalah trade war China dan AS yang bisa berdampak ke Asia dan juga ke Indonesia,” kata Jahja.

Dia menjelaskan, sementara itu juga ada kendala dari dalam negeri yakni suku bunga acuan. Menurut dia rupiah saat ini kurang bisa menyesuaikan diri dengan dolar AS dan jika bunga acuan BI bisa naik 50 basis poin (bps) diharapkan bisa membuat rupiah stabil.

“Masalahnya sementara masih suku bunga, kalau bunga BI bisa naik 0,5% mungkin bisa agak stabil. Jika naik hanya 25 bps itu agak kurang,” ujarnya.

Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergejolak, namun tidak ada arah menuju krisis yang disebut-sebut muncul dalam siklus 10 tahunan. Jahja menjelaskan saat ini untuk mengantisipasi perbankan harus menjaga permodalan dan menjaga likuiditas.

Saat ini suku bunga acuan BI tercatat 4,75%, ini sudah naik 0,5% dari sebelumnya 4,25%.

Sementara itu, Bank Indonesia siang ini menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya beberapa kali menyampaikan membuka peluang menaikkan suku bunga acuan dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komie Ekonomi dan Industri Nasional ( KEIN) Arif Budimanta mengatakan, pasar melihat adanya pelemahan data fundamental Indonesia, meskipun terjadi perbaikan peringkat kredit pemerintah.

“Rasio utang terhadap PDB, meski masih di bawah batas sesuai UU, jika melihat defisit neraca perdagangan yang cenderung membesar dikhawatirkan memaksa pemerintah menambah utang lebih banyak lagi,” ujar Arif.

Jika terus seperti ini, cadangan devisa dikhawatirkan juga akan terus tergerus lantaran kondisi eksternal, yaitu perang dagang antara AS dan China akan berpengaruh besar terhadap Indonesia.(kcm/dtc/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *