Saksi Fakta Perkuat Dakwaan Jaksa dalam Kasus Dugaan Penipuan dan Pemalsuan Dokumen

oleh
Terdakwa Wong Daniel saat menjalani persidangan di PN Surabaya.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sidang lanjutan kasus pemalsuan dokumen serta penggelapan yang melibatkan Wong Daniel Wiranata kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (20/2/2019). Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan keterangan saksi ahli.

Dalam keterangannya Probo Wahyudi mengatakan, telah menyerahkan Rp. 7,5 miliar serta Rp. 12 miliar kepada terdakwa Wong Daniel melalui saksi Soetrsino Wiharjo terkait Proyek Pengadaan Kran dan Valve dari Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Kota Balikpapan pada bulan Oktober 2014 silam.

Mendengar keterangan demikian, penasihat hukum Nizar Fikri langsung mencecar pertanyaan kepada saksi Probo Wahyudi terkait kucuran dana Rp. 7,5 miliar yang diterima terdakwa sesuai Akta Notaris no 26 Tanggal 10 Januari 2015. Atas pertanyaan itu, saksi menganggap jika duit Rp. 7,5 miliar selesai dan tidak ada masalah.

“Uang Rp 7,5 milyar sudah selesai tidak ada masalah, sudah dibayar,” ujar saksi Prabo Wahyudi.

Tidak hanya itu, Nizar juga menanyakan terkait kucuran yang lebih besar yakni senilai Rp. 12 miliar dengan kurs dollar, tanpa adanya akte perjanjian yang sama – sama dasarnya Purcase Order (PO). Dana Rp. 7,5 dan Rp. 12 miliar dananya bersumber dari saksi Prabo Wahyudi.

“Yang Rp 7,5 M itu antara saya pribadi dengan Wong Daniel (terdakwa), sedangkan Rp 12 M, antara saya dengan Soetrisno Diharjo” tukas Prabo Wahyudi menjawab pertanyaan penasihat hukum terdakwa.

Nizar menganggap jika, Rp. 12 miliar, yang diserahkan saksi Prabo Wahyudi kepada saksi Sutrisno tanpa adanya perjanjian hitam diatas putih dan di ikat dengan akta yang jelas sesuai dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Penasihat hukum lainya juga menanyakan mekanisme penyerahan Rp. 12 miliar dalam pecahan dollar USA dan Singapura, yang diserahkan kepada saksi Probo Wahyudi kepada saksi Soetrisno bukan melalui transfer.

Menanggapi pertanyaan tersebut, saksi Probo Wahyudi menyebut jika pada saat itu terdakwa Daniel meminta bentuk pecahan US Dollar yang akan digunakan untuk import barang diluar negeri.

“Karena Daniel pada waktu minta US Dollar untuk import barang diluar negeri” tukasnya.

Tak mau kalah, Penasihat hukum terdakwa, Yudi Wibowo, menanyakan kepada saksi Probo Wahyudi terkait adanya penyitaan barang milik terdakwa Wong Daniel Wiratama terkait keterlambatan pengembalian sejumlah uang, yang dilakukan oleh saksi Soetrisno Diharjo.

Yudi menyebut jika barang yang disita bernilai puluhan milyar. Tak hanya itu, Ia juga mengantongi bukti – bukti penyitaan yang di duga dikakukan oleh saksi Soetrisno Diharjo.

Akan tetapi terkait adanya penyitaan itu, saksi Probo Wahyudi menyatakan tidak tahu menahu adanya penyitaan tersebut.

Menanggapi keterangan saksi, terdakwa menyatakan bahwa keterangan saksi tidak benar. Pinjaman sesuai pada akte notaris senilai Rp. 7,5 milyar sesuai pada BAP, PO senilai Rp. 19 milyar. Sedangkan Rp. 12 milyar terdakwa mengaku tidak menerima uang tersebut.

Selain itu, terdakwa Wong Daniel Wiranata mengakui jika dirinya membuat Biro Gilyet pada awal Maret 2015. Pada waktu yang sudah ditentukan, terdakwa belum bisa mengembalikan uang tersebut.

“Pada awal Maret dan awal April, saya memang membuat BG tersebut dengan nominal 14 milyar, dengan tujuan untuk mengulur waktu pembayaran. Karena memang saya belum ada uang. Bukan untuk jaminan” tukas terdakwa Wong Daniel Wiratama saat menanggapi keterangan saksi.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum, Djuariyah kepada majlis hakim dalam perkara ini meminta waktu sepekan untuk menghadirkan saksi lain.

Untuk diketahui, Bilyet Giro PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk No BV471011 dipergunakan untuk pengembalian uang tunai yang diserahkan sebesar Rp. 12.000.000.000,- (dua belas milyard rupiah) secara bertahap kepada saksi Soetrisno Diharjo Alias Fredi kemudian diserahkan kepada terdakwa Wong Daniel Wiranata dan tidak ada kaitannya dengan uang yang sudah dikembalikan terdakwa Wong Daniel Wiranata sebesar Rp. 7,5 miliar.

Karena pada waktu itu, terdakwa Wong Daniel Wiranata menunjukkan beberapa lembar dokumen order dari PDAM Kota Balikpapan yang menunjuk CV. Sarana Sejahtera milik terdakwa Wong Daniel(berbeda obyek pekerjaan), sehingga ada 2 (dua) bentuk kerjasama, yaitu kesepakatan berdua antara saksi Probo Wahyudi dengan terdakwa Wong Daniel Wiranata Rp. 7,5 milyar dengan Akta Perjanjian kerjasama Nomor 26 tanggal 10 Januari 2015 dihadapan Notaris Eny Wahyuni.

Sedangkan bentuk kerjasama kedua, kesepakatan bertiga antara saksi Probo Wahyudi, saksi Soetrisno Diharjo, dan Wong Daniel Wiranata sebesar Rp. 12 milyar pada tanggal 16 Desember 2017 atas nama korban Soetrisno Diharjo. Dokumen penyerahan uang secara bertahap dari Prabo Wahyudi kepada saksi Soetrisno Diharjo berupa 6 lembar kwitansi.

Selain itu, terdakwa Wong Daniel Wiranata tidak ikut membubuhkan tanda tangan pada bukti penyerahan karena sesuai dengan kesepakatan awal antara mereka bertiga bahwa untuk penyerahan uang melalui Soetrisno Diharjo Alias Fredi tidak secara langsung kepada Terdakwa Wong Daniel Wiranata.

Serta yang membubuhkan tanda tangan pada bukti penyerahan uang adalah Saksi Soetrisno Diharjo Alias Fredi (selaku penerima) atas sepengetahuan Terdakwa Wong Daniel Wiranata dan Terdakwa Wong Daniel Wiranata hanya satu kali hadir yaitu penyerahan uang tanggal 27 Januari 2015 dengan nilai uang sebesar Rp. 2 miliar yang diketahui saksi atas nama Saksi Temmu Als. Pak Mo alamat Dukuh Bulakbanteng Suropati 4 27 A Kota Surabaya.

Bahwa akibat dari perbuatan Terdakwa Wong Daniel Wiranata tersebut saksi Probo Wiharjo dirugikan sebesar Rp. 12 miliar. (ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.