Sebelum OTT KPK, Eddy Rumpoko Selamat dari Sederet Kasus Korupsi Ini

Wali Kota Batu Eddy Rumpoko ditetapkan sebagai tersangka dan langsung mengenakan rompi oranye tahanan KPK usai diciduk KPK, di rumah dinasnya, Sabtu (16/9). Hari ini Eddy ditahan di Rutan Klas I Cipinang Jakarta Timur.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi telah menahan Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko dan dua orang lain yakni Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan Pemkot Batu, Edi Setyawan dan pengusaha yang diduga sebagai penyuap, Filipus Djap usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka, Minggu (17/9). Sebelum terjaring operasi tangkap tangan (OTT), ternyata Eddy dan sejumlah anak buahnya sudah tersangkut banyak skandal korupsi hingga namanya disebut dalam putusan pengadilan, namun walikota dua periode itu selalu selamat dari jerat hukum.

Kasus pertama, dugaan kasus korupsi promosi wisata yang merugikan negara hingga Rp 1,3 miliar. Kasus itu ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Dalam kasus itu, Pengadilan Tipikor Surabaya menjatuhkan vonis bersalah kepada mantan Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kota Batu, Muhammad Syamsul Bakrie, mantan Ketua Perhimpunan Hoten dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Uddy Syarifudin dan seorang rekanan Pemkot Batu.

Nama Eddy pun disebut pada putusan Pengadilan Tipikor Surabaya dalam kasus itu. Pihak Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menyebutkan akan menyelidiki keterlibatan Eddy yang namanya disebutkan dalam vonis pengadilan kasus itu.

Namun, penyelidikan oleh Kejai Jatim terkait dugaan keterlibatan Eddy menguap begitu saja. Politisi yang menjadi anggota organisasi Pemuda Pancasila Jawa Timur dan sempat digadang-gadang maju sebagai calon ketua umum PSSI itu tidak mempersoalkan penyelidikan terhadap keterlibatanya oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.

Skandal kedua yakni kasus korupsi dugaan penyalahgunaan kegiatan publikasi sewa billboard di Bandara Juanda, Surabaya dan Denpasar, Bali pada tahun 2015. Kasus ini ditangani oleh Kejaksaan Negeri Kota Batu dan telah menyeret satu nama tersangka, yakni SA yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Batu.

SA sudah ditahan sejak ditetapkan tersangka pada Kamis (20/7) lalu. Sedangkan Eddy belum tersentuh.

Berikutnya, mencuat indikasi bocornya keuangan negara sebesar Rp 35,4 miliar dari total dugaan kasus korupsi di lingkungan Pemerintah Kota Batu yang terjadi mulai tahun 2009 hingga 2016. POtensi kerugian APBD Kota Batu ini diungkap dari catatan Malang Corruption Watch (MCW), sebuah lembaga yang fokus pada kasus korupsi di Malang.

“Itu kasus yang lama-lama. Yang OTT terbaru ini belum masuk,” kata Badan Pekerja Malang Corruption Watch (MCW), Buyung Jaya Sutrisna, Minggu (17/9) lalu.

Terakhir, dugaan kasus korupsi terbaru sebelum adanya OTT oleh KPK kemarin adalah operasi senyap yang dilakukan tim Saber Pungli Pusat, Kementerian Politik Hukum dan HAM yang terjadi pada Kamis (24/8). Sebanyak tiga pejabat Pemerintah Kota Batu terjaring dalam OTT itu.

Sayang, OTT akhirnya bermasalah karena tidak ada kesamaan persepsi antara Tim Saber Pungli Pusat dan penyidik Polres Batu. Pihak kepolisian mengaku kekurangan alat bukti sehingga tiga pejabat yang terjaring OTT dilepaskan. Kasus itu akhirnya diambil alih oleh Polda Jatim.

Penyidik KPK melakukan OTT terhadap Wali Kota Batu Eddy Rumpoko bersama empat orang lainnya, Sabtu (16/9) sekitar pukul 13.30 WIB. OTT yang dilakukan di rumah dinas Eddy itu terkait dengan dugaan suap pelaksanaan proyek di Kota Batu oleh rekanannya, Filipus Djap. (Baca: Terima Suap Rp 200 Juta Jelang Lengser, Walikota Batu Diciduk KPK)

Setelah melewati proses pemeriksaan awal, Eddy dan seorang anak buahnya yakni Kepala ULP Edi Setyawan serta seorang rekanan, Filipus Djap ditetapkan sebagai tersangka kasus suap proyek belanja modal dan mesin pengadaan meubelair Pemkot Batu tahun 2017 senilai Rp 5,26 miliar.

Ketiganya langsung ditahan di rutan berbeda. Eddy Rumpoko ditahan di Rutan Klas I Cipinang Jakarta Timur, Edi Setyawan ditahan di Pomdam Jaya Guntur, Filipus di Mapolres Metro Jakarta Pusat. Adapun dua orang lain dilepaskan.

Edi Setyawan yang pertama keluar dari Rasuna Said  sekitar pukul 16.22 WIB sudah memakai rompi oranye tahanan KPK dan memegang tas punggung berwarna hitam. Kepada para wartawan, ia sempat berujar agar negeri ini bisa dibangun lebih baik lagi. Selebihnya ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan wartawan.

Ia juga hanya menggelengkan kepala ketika ditanya apakah suap Rp 100 juta yang dia terima dari Filipus dimintanya sendiri atau tidak. Edi kemudian masuk ke mobil tahanan.

Kepala Unit Lelang Procurement Pemkot Batu, Edi Setyawan mengkuti jejak atasannya, Eddy Rumpoko yang ditetapkan sebagai tersangka kasus suap Rp 500 juta dari pengusaha Filipus Djap terkait proyek pengadaan mebel senilai Rp 5,26 miliar.

Tersangka kedua yang keluar dari KPK yakni Wali Kota Batu. Ia keluar Gedung KPK pada pukul 17.45 WIB. Sama seperti Kabag ULP Kota Batu, Eddy juga sudah mengenakan rompi oranye.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan, ketiga tersangka ditahan di tempat berbeda. Dalam kasus ini, Eddy Rumpoko diduga menerima suap Rp 500 juta dari Filipus Djap. Filipus Djap adalah Direktur PT Dailbana Prima.

Berapa Harta Eddy Rumpoko?

Tidak ada catatan sejak Eddy pertama kali menjabat Walikota Batu tahun 2012 hingga periode keuda yang akan berakhir pada Desember 2017 ini.

Eddy terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 1 Juni 2015 yang lalu. Berdasar Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) di KPK itu,  Eddy memiliki total harta Rp 19.170.334.000.

Rinciannya, harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan di Kota Malang dan Kota Batu yang totalnya Rp 11.925.334.000. Sementara untuk harta bergerak, Eddy memiliki logam mulia, barang-barang seni dan antik, surat berharga, giro, serta piutang yang totalnya mencapai Rp 3.350.000.000.

Selain itu, harta bergerak lain milik Eddy yakni 2 motor yang terdiri dari motor BMW tahun pembuatan 1954, dan motor Piaggio LX. Sementara untuk mobil, Eddy memiliki mobil BMW, Honda CR-V, 3 Toyota Alphard, Mercedes Benz, 2 Toyota Kijang Innova, 2 Toyota Kijang, Mazda Premacy, Hyundai Trajet, dan Nissan X-Trail. Totalnya sebesar Rp 3.895.000.000. (nad)