Selidiki Dugaan Korupsi Banjir Garut, Polisi Periksa Pejabat Pemkab dan Pengusaha

Banjir bandang di Kabupaten Garut mengakibatkan 35 orang meninggal dunia dan 19 warga hilang. Polisi menduga banjir terjadi karena salah kelola kawasan perhutanan di Garut.

Banjir bandang di Kabupaten Garut mengakibatkan 35 orang meninggal dunia dan 19 warga hilang. Polisi menduga banjir terjadi karena salah kelola kawasan perhutanan di Garut.

GLOBALINDO.CO, GARUT – Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) memeriksa 15 orang termasuk pejabat Pemerintah Kabupaten Garut dan pengusaha terkait  bencana banjir bandang di wilayah setempat, 20 September 2016 lalu. Pemeriksaan saksi ini untuk menyelidiki dugaan pelanggaran dalam pengelolaan hutan di balik penyebab banjir yang menewaskan 35 orang dan 19 warga hilang itu.

Di antara para pejabat Pemkab Garut yang diperiksa adalah Kepala Badan Pertanahan Nasional, Kepala Dinas Tata Ruang dan Pemukiman, Kepala Dinas Kehutanan, manajemen Perhutani. Sedangkan dari pihak swasta yakni Direktur PT Agro, pengelola perkebunan, dan sejumlah pengusaha.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar, Ajun Komisaris Besar Polisi Diki Budiman, mengatakan, mereka diperiksa perihal rusaknya hutan di hulu sungai. Soalnya banjir bandang yang menyebabkan 35 tewas dan 19 warga hilang itu ditengarai akibat pelanggaran pidana kehutanan dan pengelolaan lingkungan hidup.

“Hasil pemeriksaan ini nanti akan kita evaluasi kembali. Apakah bisa lakukan penyelidikan lebih lanjut atau tidak,” ujar Diki kepada wartawan di Markas Polda Jabar di Kota Bandung pada Kamis (6/10).

Selain kawasan hutan, tempat wisata pun diduga mempunyai keterkaitan. Sebanyak enam tempat wisata di satu kawasan hutan lindung turut diperiksa penyidik polisi.

Pemeriksaan para saksi itu adalah tindak lanjut dari pengembangan penyelidikan Tim Khusus Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar di lokasi setelah bencana alam itu.

“Satu kawasan ada enam pemilik wisata dan semua kita mintai keterangan. Pokoknya di kawasan Pegunungan Darajat,” kata Diki. (vin/gbi)