Sidang Kasus Penipuan Henry Gunawan, Saksi Ahli Sebut Akta Notaris Tak Boleh Diperjualbelikan

oleh
Bos PT Gala Bumi Perkasa yang menjadi terdakwa kasus penipuan dan penggelapan Henry J Gunawan menjalani sidang lanjutan di PN Surabaya, RFabu (13/12).
Bos PT Gala Bumi Perkasa yang menjadi terdakwa kasus penipuan dan penggelapan Henry J Gunawan menjalani sidang lanjutan di PN Surabaya, Rabu (13/12).

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Terdakwa kasus penipuan dan penggelapan Henry J Gunawan tak berkutik mendengar penjelasan dua saksi ahli yang dihadirkan jaksa penutut umum (JPU). Saksi ahli  menyatakan notaris diperbolehkan membuatkan akta perjanjian meskipun tidak memahami betul objek materiilnya dan boleh meminjamkannya kepada pihak tertentu sepanjang tidak untuk melawan hukum.

Demikian disampaikan ahli Kenotariatan, Habib Adjie, yang dihadirkan di persidangan.

“Kalau menurut putusan MA, Notaris tidak punya kewajiban harus mengetahui objek materiil untuk membuat akta. Sepanjang objek materiilnya bisa dijelaskan dan ada data dokumen yang jadi pegangannya, bBahkan walau keterangan yang dicatat oleh notaris,” tutur saksi Habib menjawab pertanyaan tim pengacara Henry di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (13/12).

Saksi menambahkan, notaris juga diperbolehkan meminjamkan akta yang dibuatnya sepanjang sesuai dengan aturan hukum dan tidak merugikan pihak-pihak terkait.

“Selama notaris berkeyakinan bahwa tindakan hukum yang diambil itu baik dan benar, tidak masalah,” terang saksi ahli yang juga seorang notaries dan pejabat lelang ini.

Hanya saja, lanjut Habib, notaris dan pihak-pihak terkait dilarang memperjual belikan atau melakukan transaksi yang bisa merusak perjanjian dalam akta tersebut. Menurutnya, sebuah akta tetap sah dan mengikat pihak-pihak terkait selama tidak ada dokumen perjanjian baru atau putusan hukum yang lebih tinggi untuk membatalkannya.

“Sebuah akta perjanjian sifatnya mengikat dan tetap berlaku didepan notaris sampai dengan pembatalan para pihak didalam akte atau dalam putusan pengadilan yang mendegradasi akte tersebut,” jelas Habib.

Sementara terkait pertanyaan tim pembela Henry yang menyoal tentang akte perjanjian yang isisnya tidak sesuai kebenaran, saksi  Habib melempar balik kepada terdakwa dan pihak terkait lain. Habib mnmenandaskan, para pihak seharusnya sudah membaca terlebih dulu dan mengerti isi akta sebelum menandatanganinya.

“Kenapa baru sekarang dipertanyakan. Waktu penandatanganan para pihak seharusnya sudah membaca dan mengerti perjanjian itu. Apalagi sebelum ditandatangani pasti dibacakan dulu oleh Notaris,” cetus saksi ahli Habib menjawab pertanyaan tim pembela Henry J Gunawan.

Sementara sebelumnya saksi ahli lain, pakar Hukum Pidana dari Universitas Pelita Harapan Surabaya Jusup Jakobus Setyabudhi menjelasakan ihwal legal standing Notaris Caroline C Kalampaung yang bertindak sebagai pelapor dalam kasus penipuan dan penggelapan bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP).

Saksi Jusup Jakobus menjelaskan, Pasal 378 KUHP dan Pasal 372 KUHP yang didakwakan jaksa dari Kejari Surabaya pada terdakwa Henry J Gunawan sudah sesuai dan merupakan serangkaian peristiwa tindak pidana yang saling terkait.

“Satu peristiwa bisa terjadi dua tindak pidana sekaligus, karena masuk dalam perbuatan berkelanjutan,”  terang Jusup.

Lebih jauh, Jusup menerangkan, tindak pidana yang  penipuan yang dilakukan Henry J Gunawan merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memperdayai seseorang demi meyakinkan orang lain agar mau menurutinya.

“Sedangkan yang dimaksud penggelapan adalah suatu tindak pidana dengan maksud atau tujuan untuk menguasai harta orang lain,” tuturnya.

Menurutnya, Notaris Caroline memiliki hak untuk melaporkan adanya perbuatan pidana. Pasalnya, ada peristiwa hukum yang menyebabkan kerugian pada notaris Caroline.

Kerugian yang dimaksud menyangkut profesi Caroline sebagai notaris yang seharusnya menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum. Sebab sertifikat yang seharusnya pada dirinya kemudian dipinjam staff PT Gala Bumi Perkasa, Asrori dan Yuli atas perintah terdakwa Henry ternyata tidak dikembalikan kepada Notaris Caroline. Sertifikat itu justru diperjual belikan kepada pihak lain.

Seperti diketahui, Henry J Gunawan dilaporkan oleh Notaris Caroline C Kalampung.  Saat itu,  Notaris Caroline mempunyai seorang klien yang sedang melakukan jual beli tanah sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban tak kunjung menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB).

Namun, Saat korban ingin mengambil haknya, Henry J Gunawan mengaku bahwa SHGB tersebut di tangan notaris Caroline. Namun setelah dicek, Caroline mengaku bahwa SHGB tersebut telah diambil seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. Kabarnya, SHGB itu ternyata dijual lagi ke orang lain oleh Bos PT Gala Bumi Perkasa itu dengan harga Rp 10,5 miliar. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *