Sidang Pemalsuan Kavling Tanah di Gunung Anyar Kembali Digelar

oleh

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sidang pidana dugaan pemalsuan surat atas objek sebidang tanah kosong terletak di Kelurahan Gunung Anyar, Kecamatan Rungkut, Surabaya, dengan luas 1.546 Hektar kembali di gelar di PN Surabaya, Kamis (21/3/2019).

Pada perkara ini dua orang duduk sebagai terdakwa. Dua terdakwa tersebut yaitu Nurchasan Bin Demin dan H.M Ichsan Bin Djafar. Keduanya dijerat pasal 263 ayat (1) KUHP Jo pasal 55 ayat (1) tentang pemalsuan surat.

Salah satu pembeli tanah kavling, Tanto Wibisono, mengatakan jika keterangan dari kedua terdakwa pada persidangan yang lalu dinilai tidak benar. Sebab, terdakwa nurchasan sudah menjual tanah tersebut pada tahun 1990.

Itu artinya mulai tahun itu juga Nurchasan sudah tidak menguasahi lahan tersebut, tapi penguasaan berpindah kepada para pembeli tanah kavling sesuai dengan buku C kelurahan Gunung Anyar, Kecamatan Rungkut, Surabaya.

“Itu terbukti dengan adanya penguasaan fisik tanah oleh pemilik kavling dengan memasang patok dan meningkatkan hak dari petok menjadi SHM dan mulai th1990 hingga 2015 serta tidak pernah ada keberatan dari pihak manapun, sampai aksi memagar tanah HM Ichsan” ujar Tanto.

Tanto menambahkan, terkait perkara ini ia menganggap jika terdakwa Nurchasan telah diperalat oleh H Ichsan. Karena awalnya Nurchasan membenarkan yang membeli tanah pak Adhy suharmaji dan membenarkan tanah tersebut sudah terkavling dan sudah dimiliki pemilik2 kav

“Nurchasan juga pernah mengatakan, yang menipu itu haji Ichsan. Saya dibohongi pada saat di notaris” tukas Tanto menirukan percakapan terdakwa Nurchasan

Selain itu, Tanto juga menyampaikan bahwa salah satu pemilik kavling telah mendapat ancaman dari pihak saksi dari terdakwa pada sidang sebelumnya.

“Hari Senin lalu, saksi yang pernah bersaksi mengancam dengan memotong motor dari salah satu pemilik kavling saat akan pulang, dia sempat bilang jangan ikut-ikut, saya ini orangnya pak Tito. Katanya.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum, Damang Anubowo pada surat dakwaanya merincikan jika keterangan palsu dalam Perjanjian Jual Beli antara terdakwa Nurchasan dengan terdakwa H.M Ichsan pada 28 Februari 1996 yang sudah dilegalisasi dihadapan notaris Raden Ayu Sri Hartini dengan No : 1924/L/II/1996.

“Perbuatan pemalsuan surat yang dilakukan kedua terdakwa pada bulan Desember tahun 2015 saat tanah pada lokasi tersebut telah dipasang papan bertuliskan ‘tanah milik H.M Ichsan’ dan belum pernah di kavling HM Adhy Suharmadji” beber Damang pada rincian surat dakwaan.

Kemudian, saksi HM Adhy Suharmadji mengetahui perjanjian jual beli antara kedua terdakwa pada 28 februari 1996 yang dilegalisasi dihadapan notaris No : 1924/L/II/1996 dan kuasa untuk menjual antara kedua terdakwa. Tak hanya itu, terdakwa HM Ichsan menjual lagi tanah tersebut kepada Moch Fauzi sesuai Akta No. 203 tanggal 31 Mei 2013 tentang PJB dihadapan notaris/PPAT Dedy Wijaya, Surabaya.

Sebelumnya, pada tahun 1990 saksi HM Adhy Suharmadji dan kedua terdakwa selaku pemegang saham di PT Restabun Karya bergerak dibidang perdagangan tanah kavling.

Pada Akta 204 tanggal 26 Januari 1990 HM Adhy Suharmadji sebagai Direktur PT Restabun Karya membeli tanah dengan petok D (asli) No. 1159 atas nama terdakwa Nurchasan dan telah dibayar lunas pada tanggal 7 November 1990 dengan harga Rp. 12.000.000 (dua belas juta rupiah).

Selanjutnya, melalui pemasaran PT Restabun Karya dari tahun 1991 hingga akhir 2015 teoah dilakukan penjualan tanah kevling seluas 12.000m² (dua belas ribu meter persegi) dari luas tanah 15540m² (lima belas ribu lima ratus empat puluh meter persegi) sebagian tanah tersebut telah dikuasai secara fisik oleh 50 orang nasabah yang membelinya secara kavling dengan total sebanyak 85 kavling.

Terkait perpindahan hak kepemilikan terhadap tanah dari terdakwa Nurchasan menjadi milik nasabah dan tercatat di huku C Kelurahan Gunung Anyar. Beberapa nasabah yang melakukan pembelian tanah kavling dari HM Adhy Suharmadji status haknya telah ditingkatkan menjadi hak milik.

Diantaranya, saksi H Muhammad Chinun, Tanto Wibisono dan Dr Yagus Suyadi. Pada saat para nasabah melakukan pembelian tanah kavling dari saksi HM Adhy Suharmadji atas sepengetahuan kedua terdakwa yang tertuang dalam perjanjian pengikatan jual beli. (ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.