Siswa Cirebon Terjang Sungai di Cirebon Sudah dari 30 Tahun Lalu

oleh
Pelajar menerjang sungai

GLOBALINDO.CO, CIREBON – Pemadangan siswa Patapan Cirebon yang nekat menerjang arus Sungai Ciciluk Desa Patapan, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat sudah lumrah sejak 30 tahun silam.

Kepala Desa Patapan Karmadi mengatakan di sungai tersebut terdapat jembatan penghubungan antara Dusun Pagedangan dengan Dusun Pon Desa Patapan. Namun, menurut Karmadi sekitar 30 tahun silam jembatan itu ambruk dan hingga kini belum ada pembangunan jembatan lagi.

“Dulu ada jembatan, panjang sekitar 71 meter. Cuma ambruk gara-gara banjir, sekarang belum ada pembangunan lagi. Siswa dan masyarakat terpaksa menyeberang sungai, kadang juga memutar lewat jalan lain,” kata Karmadi kepada detikcom di Balai Desa Patapan, Selasa (10/4/2018).

Karmadi menjelaskan sejak tahun 2013 silam pihaknya sempat mengakukan pembangunan jembatan ke Pemerintah Kabupaten Cirebon dan Provinsi Jawa Barat. Sayangnya, hingga kini tak ada realisasi dari pemerintah.

Dikatakan Karmadi, anggaran pemerintah dinilai tak mencukupi untuk membangun jembatan penghubung di sungai tersebut. “Sebenarnya sungai itu penghubung antar desa, karena di sana ada masuk juga Desa Beber. Kita pernah ajukan, tapi anggarannya membengkak katanya, tak cukup,” ucap Karmadi.

Lebih lanjut, Karmadi mengatakan tak hanya kepada pemerintah, pihaknya juga sempat mengajukan DAK ke DPR RI terkait pembangunan jembatan.

“Saya ajukan ke Pak Yosep Umar Hadi DPR RI untuk ini, anggarannya Rp 5,5 miliar tahun lalu. Sebelumnya, pada tahun 2013 saya ajukan Rp 3,8 miliar, 2015 juga saya ajukan Rp 4,8 miliar ke pemerintah. Tapi sekarang belum ada realisasinya,” ucap Karmadi.

Karmadi mengatakan pihak desa sempat membangun jembatan gantung untuk mempermudah akses masyarakat yang ingin menyeberang. Namun, untuk bisa menyeberang melalui jembatan gantung itu, dikatakan dia, masyarakat harus memutar sekitar dua kilometer.

“Kalau surut bisa gunakan jembatan gantung, ya lumayan jauh. Kalau banjir, ya tidak bisa. Harus memutar ke jalan raya utama yang jauhnya sekitar delapan kilometer. Berharap segara ada realisasi, yang kita ajukan itu jembatan yang tahan banjir,” ucapnya. (dtc/boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *