Soejono Candra Bantah Terima Uang Rp 660 Juta dari Lie Soekoyo

Terdakwa Soejono Candra saat menjalani persidangan di PN Surabaya.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Terdakwa kasus penipuan dan penggelapan Soejono Candra, kembali didudukkan sebagai pesakitan di Pengadilan Negeri PN Surabaya Kamis, (07/12/17). Agenda sidang kali ini adalah pembacaan pledoi atau pembelaan dari kuasa hukum terdakwa.

Kuasa hukum terdakwa, Ade merasa tuntutan dan dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) tidak sesuai dengan hasil penyidikan pihak Polrestabes Surabaya.

Dalam pleidoinya, terdakwa juga membantah dan tidak mengakui telah menerima uang sebesar 660 juta dari saksi korban Lie Soekoyo yang telah diserahkan pada terdakwa Soejono Candra. Terdakwa Juga mengingkari akte no 9 terkait perjanjian jual beli yang telah di tandatangani oleh terdakwa beserta akte no 11 tentang kesepakatan pengosongan rumah.

”Terdakwa tidak terbukti seperti apa yang telah didakwakan maupun dalam tuntutan JPU, bahwa JPU telah merekayasa, memohon kepada majelis hakim untuk Membebaskan terdakwa dari segala dakwaan dan tuntutan hukum dari Jaksa Penuntut Umum ” Ujar Ade, membacakan Nota pembelaannya.

Mendengar pembelaan kuasa hukum terdakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Catrine Sunita langsung Mengajukan tanggapan yang akan ia sampaikan dalam persidangan Minggu depan.

”Saya tidak mau berkomentar banyak terkait pembelaan kuasa hukum terdakwa, Minggu depan aja bisa didengar langsung tanggapan kami”ujar Catherine.

Sementara itu kuasa hukum saksi korban Lie Soekoyo, mengganggap pembelaan kuasa hukum terdakwa diluar fakta persidangan bahkan memuat pendapat subyektif yang penuh retorika.

”Pembelaan penasehat hukum terdakwa itu diluar fakta persidangan dan penuh retorika, terkait akte no 9,10 dan 11 tahun 2006 masih sah secara hukum karena belum ada pembatalan pengadilan. Dimana sahnya ? Karena akta itu dibuat dihadapan pejabat Pembuat Akte Tanah” Terang Salim.

Diketahui sebelumnya, Kasus penipuan tersebut berawal dari terdakwa Sojono Candra yang berniat meminjam uang pada saksi korban, Lie Soekoyo.2004 silam, Dengan Alasan bahwa rumahnya bakal segera disita oleh pihak Bank Artha Graha, kalau tidak segera melunasi hutang-hutangnya, namun korban tidak mau kalau hanya meminjami uang.

Akirnya terdakwa menjual rumahnya yang beralamat di Perum Unimas Blok. C Waru Sidoarjo. kepada korban Lie Soekoyo Dengan kesepakatan harga sebesar 660 Juta rupiah. Dengan sarat, bahwa terdakwa meminta terhadap Korban untuk tidak menjual rumah tersebut kepada pihak lain sampai dengan jangka waktu dua tahun, Karena beralasan akan dibeli kembali oleh terdakwa.

Atas alasan tersebut korban merasa kasihan lantas mengiyakan.

Sesampai nya batas waktu yang dijanjikan. terdakwa tak kunjung membeli rumah yang sudah ia jual tersebut, sampai Akirnya tanggal 29 November 2006 korban mendatangi terdakwa untuk mengesahkan Jual beli Karena tidak bisa menepati janji – janji harapannya untuk kembali membeli rumah yang pernah ia jual tersebut.

Timbullah Akte pernyataan Jual beli Nomer 9 tahun 2006 yang disertai akte kuasa jual Nomer 10 tahu 2006, antara Soejono Candra kepada Lie Soekoyo dihadapan Notaris Sugiharto. tak hanya itu, untuk Mengosongkan rumah tersebut juga tertuang dalam akte Nomer 11 tahun 2006 bahwa Soejono Candra juga telah menerima uang sebesar 25 juta, untuk biaya pengosongan rumah.

Sampai batas waktu yang dijanjikan yakni 30 November 2006 terdakwa tidak segera Mengosongkan rumah sehingga korban merasa dirugikan sebesar 685 juta.

Korban pun Akirnya melaporkan perkara tersebut ke Polrestabes Surabaya, bahkan sampai kasus ini bergulir dipersidangan. korban masih belum bisa menguasai akan obyek rumah yang dalam pandangan hukum sudah sah ia beli.

Terpisah, istri terdakwa yakni Yen Jet Ha, Mengklaim kalau suaminya tersebut tidak pernah menjual rumah yang dimaksud dalam akte jual beli, dengan berdalih bahwa akte tersebut adalah akte kerja sama usaha alat berat buldoser.

Tak hanya itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya pernah melakukan upaya hukum praperadilan akan status tersangka yang pernah disematkan oleh penyidik Polrestabes Surabaya pada terdakwa Soejono Candra.

Kendati demikian, upaya hukum praperadilan tersebut kandas setelah Hakim memutuskan bahwa penetapan tersangka pada Soejono Candra adalah sah. Sesuai dengan prosedur hukum. Karena unsur pidana pada pasal 378 KUHP yang diterapkan oleh penyidik berikut bukti-bukti sudah terpenuhi. (adi/gbi)