Sri Mulyani Usulkan Utang Baru untuk Cegah Defisit Anggaran

Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI.

Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengusulkan mengambil utang baru untuk  mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen tahun 2018 sesuai target yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Utang ini, kata Sri, untuk menyeimbangkan  belanja pemerintah dengan penerimaan negara sehingga tidak terjadi defisit anggaran yang terlalu besar.

“Kita akan menyeimbangkan, karena untuk sumber pertumbuhan ekonomi yang berasal dari pemerintah dan non pemerintah. Untuk pemerintah kita memperkirakan defisit masih ada di kisaran 2,2 persen. Dan itu berarti harus ada utang baru yang akan mendanai defisit itu,” ujar dia di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu (2/11).

‎Menurut Menkeu, apabila penerimaan negara masih seret pada tahun depan, maka potensi adanya utang baru akan semakin besar. Sebab jika pembengkakan defisit anggaran hingga 2,7 persen terhadap PDB, maka nominal defisit akan bertambah sekitar Rp 37 triliun-Rp 39 triliun, atau menjadi Rp 335,7 triliun.

“Kalau Anda bicara gross, itu kan ada pembayaran utang kembali. Jadi yang dihitung hanya yang penambahan utang baru sekitar Rp 335 triliun,” jelas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Namun demikian, jika ekonomi mampu tumbuh di atas 6 persen, lanjut Sri Mulyani, maka potensi penerimaan negara akan semakin ‎besar. Salah satunya pada penerimaan pajak yang diperkirakan akan tumbuh sebesar 17 persen.

“Penerimaan pajak diperkirakan akan tumbuh 17 persen, apabila ekonomi tumbuh sekitar 6,1 persen dengan inflasi sekitar 3,7 persen,” demikian Sri Mulyani. (lpn/gbi)