Sudah 20 Kali Nita Dijual Mucikari

oleh
Ponco Prihanto, terdakwa kasus mucikari online.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Persidangan terdakwa Ponco Prihanto kasus mucikari online kembali jalani persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi korban. Dalam keterangannya, saksi mengaku sebanyak 20 kali telah dijual ke pria hidung belang.

Sidang yang digelar tertutup ini, Jaksa Penuntut Umum Samsu J Efendi menghadirkan saksi EK (inisial) alias Nita. Dia (Nita) adalah wanita yang dijual terdakwa ke pria hidung belang.

Nita saat menjalani persidangan mengenakan jilbab, nampak gugup. mulutnya sering kali terlihat komat-kamit membaca doa. Setengah jam berlalu, majelis hakim yang diketuai Hariyanto akhirnya menutup persidangan.

“Tadi saat diperiksa, saksi Nita mengaku sudah seringkali dijual terdakwa, tepatnya sudah 20 kali,” kata Samsul kepada wartawan.

Mirisnya lagi, Nita justru mengaku bahwa dirinya lah yang meminta agar dicarikan pelanggan hidung belang. “Saksi Nita juga mengaku dirinya yang meminta untuk dicarikan pelanggan, bukan terdakwa yang memaksa Nita untuk jadi PSK (pekerja seks komersial),” terangnya.

Jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya menambahkan, sesuai pengakuaanya Nita ternyata merupakan tetangga terdakwa. “Karena tetangga rumah akhirnya terdakwa dengan mudah menjual Nita. Jika ada pelanggan yang booking, maka terdakwa langsung menuju rumahnya untuk membawa Nita dan mengantarkannya ke hotel,” kata jaksa Samsu.

Sementara itu, dalam dakwaan dijelaskan, bisnis prostitusi online ini terbongkar setelah polisi menangkap terdakwa saat hendak mengantarkan Nita ke sebuah hotel yang berlokasi di Jalan Peneleh, Surabaya pada Oktober 2017. Sesuai rencana, terdakwa saat itu hendak menjual Nita ke pria hidung belang yang telah menunggu di hotel.

Usai ditangkap diketahui, modus yang dipakai terdakwa dalam menjalankan bisnis haramnya ini ternyata sangat sederhana. Pertama-tama terdakwa mengupload foto Nita ke salah satu grup Facebook. Di foto tersebut, terdakwa memberikan keterangan bahwa Nita bisa diajak kencan ke karaoke atau ke hotel.

Dari bisnis lendir itu, terdakwa memasang tarif Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu sekali kencan. Dalam kasus ini, terdakwa dijerat pasal 2 ayat 1 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang jo pasal 56 ayat 1 ke-1 KUHP. (nurhadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *