Surabaya Jadi Pusat Pembahasan Tata Kota 193 Negara

surabayaGLOBALINDO.CO, JAKARTA – Kota Pahlawan menjadi kiblat penataan kota di Indonesia karena dianggap mampu menyelaraskan pembangunan kota dengan pembangunan masyarakat yang ada di dalamnya.

Demikian disampaikan Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat, Lana Winayanti ditemui di acara press conference penyelenggaraan acara Prepatory Committee Meeting ke 3 (Prepcom3) di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Senin (13/6/2016).

“Surabaya sudah berhasil membuktikan bahwa pembangunan perkotaan bisa dengan peran serta masyarakat,” kata dia dalam acara tersebut.

Keberhasilan tersebut bisa dilihat dari ketersediaan infrastruktur yang bukan hanya fungsional, namun juga bisa memenuhi kebutuhan setiap kelompok masyarakat termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

“Surabaya itu juga contoh pemerintah daerahnya sangat peduli dengan kepentingan warganya. Tamannya banyak bisa untuk masyarakat umum, termasuk untuk disable. Pedistrian-nya juga lebar-lebar, bisa dilalui mereka yang menggunakan kursi roda. Pemerintahnya juga menyediakan WIFI gratis di mana-mana,” papar dia.

Keberhasilan penataan kota yang melibatkan peran serta masyarakat, lanjut dia, juga bisa dilihat dari keberhasilan Ibukota Provinsi Jawa Timur itu dalam mengkoordinir kelompok-kelompok masyarakat untuk melakukan kegiatan produktif yang bisa memberikan manfaat bagi kehidupan ekonomi kelompok masyarakat itu sendiri.

“Dengan pemberdayaan kampung itu, masing-masing kampung dengan kreasinya masing-masing bisa memiliki pendapatan hingga Rp 150 juta per bulan. Misalnya ada kampung lontong. Kampung itu memang khusus memproduksi lontong. Lontongnya ke mana dijual? Dijual lah ke pasar-pasar. Ada pesanan juga dari kota lain,” jelas dia.

Dengan catatan keberhasilan ini, Surabaya dinobatkan sebagai tuan rumah dalam acara Prepcom 3 yang akan diselenggarakan pada 25-27 Juli 2016 mendatang.

Prepcom sendiri adalah wahana berkumpulnya negara-negara di seluruh dunia untuk membicarakan dan merumuskan program-program pembangunan kota yang berkelanjutan lewat penerapan prinsip-prinsip lingkungan hijau dalam penataan kota di berbagai negara.

Sedikitnya 2.500 orang peserta yang berasal dari 193 Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan hadir dalam kegiatan ini.

Gelaran ini dinilai penting karena dalam 20 tahun terakhir, perkembangan kawasan perkotaan terjadi sangat pesat. Kondisi ini menuntut penanganan yang jauh lebih teliti dibanding sebelumnya.

“Karena kalau tidak direspons dengan baik, maka masalah perkotaan akan menjadi sulit diatasi dan malah memicu timbulnya masalah-masalah baru. Kita lihat bagaimana Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia mengalami macet. Bagaimana frekuensi bencana seperti banjir datang dengan frekuensi yang lebih sering. Ini perlu direspon,” tegas dia.(dtc/ziz)